Sebuah Perjalanan Mengarungi Dunia

  • Home
  • POTRET DAN PERISTIWA
  • REVIEW
  • FOTOGRAFI

Sebuah cerita tanpa nama.

Ada berbagai alasan yang tak ia tahu sebelumnya, bahwa dia benar-benar sedang terjebak dan tak bisa kemana-mana. Ada perasaan sulit dideteksi yang tak berkesudahan dan menggebu berkali-kali dalam ritme yang tak beraturan. Mungkin ini karena kehadiran sosok baru dalam hidupnya, sudah beberapa kali dia meyakinkan dirinya sendiri untuk tidak terpengaruh pada kehadiran sosok baru ini. Namun, semesta sepertinya tak mendukung jalan pikirannya. Sosok baru ini datang tanpa permisi dan mengubah kehidupannya.

Pada akhirnya ia senang berada di sekitar sosok baru ini. Mendengar segala celoteh panjang tanpa sela yang kadang bisa memakan waktu sangat lama. Tapi dia tetap menghadirkan telinganya untuk mendengar hal-hal yang luar biasa dari sosok baru ini. Ia senang mendengar cerita yang bervariasi. Menurutnya, sosok baru ini sungguh story teller yang baik. Ia bagaikan tersihir dengan setiap cerita yang keluar dari mulut sosok baru ini. Meski hanya mendengar, dia sungguh sangat bahagia, komunikasi satu arah ini yang kadang dia rindukan. Mendengar bagaimana perjalanan kisah hidup sosok baru ini menjadi hobi barunya. Kadang dia tak sabar mendengar babak baru dalam kisah-kisah heroik sosok baru ini. Dia bisa menyimpulkan bahwa sosok baru ini sudah mengalami perjalanan hidup yang panjang, terdengar dari kisah-kisahnya. Sosok ini sudah berkelana jauh dan sudah pasti dengan senang hati akan menceritakan perjalanannya pada orang-orang yang ia temui.

Ia melabeli sosok baru ini dengan label kindhearted. Ia  tahu bahwa tak akan ada yang sempurna di dunia ini. Namun ia berpikiran bahwa tak ada yang tak mungkin. Sosok baru ini akan sigap menolong siapa pun, dengan segala upayanya dan melihat kapasitas pertolongannya. Sosok baru ini akan melihat apakah ia bisa menolong atau tidak. Mungkin juga sosok baru ini adalah sosok yang realistis. Ia tak pandai berangan-angan. Sosok baru ini akan siap menemaninya, pergi menemukan tawa yang hilang dari dirinya. Melihat dunia luas yang mungkin hanya ia temukan di buku atau media lainnya, membuat segala sesuatu yang rumit dan besar menjadi sederhana dan mudah dimengerti. Satu hal yang membuatnya senang saat berada di sosok baru ini karena sosok ini tak akan pernah menghakimi dan tak akan berprasangka. Sosok baru ini tak akan membuat dugaan-dugaan yang tak beralasan. Tawa mereka kadang terdengar sampai ke penjuru kota. Lelucon dari keduanya membuat dunia tampak lebih ramah, mendukung segala keputusan mereka dan terlebih untuk alasan kebahagiaan.

Parfum. Satu hal yang membuat dunianya belingsatan. Sosok baru dengan parfum beraroma kuat. Wangi yang ia suka dengan rasa yang sulit untuk dideskripsi. Wangi itu mampu menariknya ke dalam dunia yang berbeda. Ia tak henti-hentinya menghirup aroma meneduhkan dari sosok baru ini. Ketika dia mencium aroma wangi itu dia bagaikan pergi ke dunia rekaan yang diciptakan sosok baru ini. Di mana yang ada di sana hanya hal yang menyenangkan dan dapat membuat terbang. Ia berpikir hanya karena wangi parfum, ia menjadi lupa dengan segala yang ada di sekitarnya. Ia tertawa, semua hanya karena sebuah wewangian!

Sosok baru ini mampu menjadi navigasi yang baik. Dia tak akan ragu dengan segala keputusan sosok baru ini. Dia akan selalu ikut dengan segala sesuatu yang diarahkan oleh sosok baru ini. Bukan karena ia tak punya pendirian, tapi lebih kepada ia sudah memercayai segala sesuatu keputusan sosok baru ini. Sesuatu yang diarahkannya akan benar dan tepat, bagaikan nakhoda yang akan membawa kapalnya berlabuh di dermaga yang tepat dengan segala koordinat yang menuntunnya. Tentu saja selalu ada tawa yang hadir di sana, sosok baru ini akan meyakinkan dirinya bahwa perjalanan bersama sosok baru ini tak akan menjemukan, perjalanan ini akan tak terduga dan pasti ada tawa yang menyeruak.

Semua dimulai ketika sosok baru ini akan berkata, “Kau siap mendengar kelanjutan kisah ini? Perjalanan ini akan panjang begitu juga dengan kisah yang akan kuceritakan”.

~~~°~~~

*fiksi ini dibuat setelah salat subuh.

  • 0 Comments

“Pikirkan dengan baik, karena dengan tiga pertanyaan yang akan kau ajukan padaku sekarang tak akan ada lagi pertanyaan-pertanyaan di masa depan.”
“Mengapa hanya tiga pertanyaan? Kamu sendiri terlalu abu-abu, bagaimana bisa hanya tiga pertanyaan yang aku ajukan, harusnya seratus pertanyaan itu baru adil.” Nada Lili meninggi.
“Ini pertanyaan pertamamu? Mengapa hanya tiga pertanyaan, baiklah akan aku jawab pertanyaan pertamamu,” Edgar tersenyum tipis.
“Tunggu, tunggu Edgar, itu bukan semacam pertanyaan yang akan aku ajukan... Haahhh.. oke-oke kamu memang tetap Edgar yang dulu, baiklah ini pertanyaan pertamaku.” Lili menatap langit-langit restoran dan ia berpikir.
Ada jeda yang panjang ketika Lili akan mengajukan pertanyaan pertamanya, ia kini menatap Edgar lekat-lekat dan ia tahu bahwa Edgar tetaplah Edgar, Edgar yang datang dari masa lalu. “Bagaimana keadaanmu?”
“Serius Li? Aku tahu pasti di pikiranmu banyak sekali pertanyaan yang akan kau ajukan padaku. Tapi yang ingin kau tahu hanya keadaanku, baiklah aku jawab dengan jawaban terbaik. Seperti yang kau lihat sekarang ini, aku baik-baik saja dan bahkan aku bisa menyebut diriku lebih dari baik. Aku selalu baik-baik saja asal kau tahu, bahkan di Amerika hingga sekarang pun aku selalu baik-baik saja.” Edgar menjawab dengan mantap.
Lili membenarkan posisi duduknya, “bukan keadaan seperti itu yang aku tanyakan, kabarmu setelah kejadian 7 tahun lalu, seorang Edgar Prasetya yang kulihat menangis untuk pertama kalinya.”
Edgar terguncang bagai disambar petir di siang hari, ia tak tahu bahwa Lili akan mengajukan pertanyaan yang paling ia hindari, yaitu tentang masa lalunya. Edgar sudah ingin membuang luka lama itu jauh-jauh, ia tak mau mengingat apa yang terjadi di masa lalunya, tapi kini ia terjebak dengan permainan tiga pertanyaan-nya sendiri.
Lili mengajukan pertanyaan tersulit dalam hidupnya yang bahkan ia sendiri masih tak mengerti jawabannya. Kini, tangan Edgar bergetar dan peluh jatuh dari pelipisnya, Lili bisa melihat itu, perubahan Edgar yang tiba-tiba. Lili menyimpulkan bahwa Edgar ketakutan. Mau tak mau sepotong demi sepotong adegan 7 tahun lalu kembali hadir di benak Edgar, ketika ia pertama kali bertemu dengan Lili, dan fakta lain bahwa ia juga menangis di hari itu, hari terkelam seorang Edgar.
Sesosok laki-laki bertato di seluruh badannya merobohkan pemuda yang masih mengenakan seragam sekolah. Malam itu hujan deras dan mereka sedang berada di lapangan kecil dekat halte bis.
“Lo bisa-bisanya jadi pengecut, sekarang kelompok kita malu gara-gara tindakan bodoh lo.” Pukulan laki-laki bertato itu melayang ke arah pemuda dan mantap mengenai pipi pemuda yang kemudian jatuh tersungkur di tanah.
“Gu...gu...gue udah bilang, kita kalah jumlah dan gue gak mau pihak kita jatuh korban, jadi gue instruksikan buat mundur bang.” Ucap pemuda itu gagap.
“Pengecut lo Gar, gue gak didik lo buat jadi pengecut. Meski lo kalah jumlah harusnya lo ga usah mundur, lawan sampai titik darah penghabisan lo, kalo perlu lo mati di sana.” Kini lelaki bertato itu berada di atas pemuda berseragam sekolah, melayangkan pukulannya berkali-kali ke wajah pemuda itu sambil mencengkeram kerah seragam pemuda yang sudah terkena cipratan darah.
Ya, pemuda itu adalah Edgar 7 tahun yang lalu. Edgar tak akan pernah bisa melawan lelaki bertato itu, inilah harga mahal yang harus ia bayar ketika tadi siang ia lebih memilih melarikan diri saat terjadi pertempuran antar geng, Edgar sadar bahwa pertempuran ini tak seimbang, ia dijebak oleh lawan. Namun, pertempuran tetap terjadi dan berlangsung lama, hingga Edgar memutuskan untuk mundur. Jika tidak, ia berpikir ia semua anggota kelompoknya akan mati hari itu. Namun, ia tampaknya akan mati malam itu. Edgar sudah pasrah jika malam itu adalah kematiannya.
“Lo tahu, geng kita diketawain sama geng lain. Kita dianggap pengecut, lo merusak nama geng kita Gar, mulai sekarang lo keluar dari geng ini dan jangan pernah nginjak markas lagi camkan itu baik-baik!!!” Lelaki bertato itu berteriak dan menghempaskan Edgar ke tanah, ia berhenti memukuli Edgar, sebelum ia beranjak pergi lelaki itu menendang Edgar yang sudah tak berdaya lagi. Lelaki bertato pergi dengan berteriak memaki Edgar.
Edgar mengerang, ia merasakan kesakitan dan hujan menambah semuanya menjadi tampak pedih. Ia mencoba untuk berdiri namun semuanya sia-sia. Ia merasakan semua tiba-tiba menghitam, sebelum ia menutup matanya ada sesosok perempuan yang menghampirinya dan berteriak padanya. Namun, Edgar sudah tak mendengar apa yang dikatakan perempuan itu hingga ia benar-benar tak sadarkan diri, Edgar pingsan.
Edgar membuka matanya, anehnya ia seperti berada di sebuah tempat yang tak asing baginya, rumahnya! Ya ini benar-benar rumah kecil yang ia tinggali bersama ibunya. Edgar bangun dari tempat tidur, anehnya ia tak merasakan sakit. Ia bercermin, ajaib karena luka-lukanya telah hilang. Ibu menghampiri Edgar, ibu memeluk Edgar dengan penuh hangat. Tak biasanya ibu memeluk dengan erat seperti ini, pikir Edgar. Pelukan ibu juga lama sekali, seolah waktu tiba-tiba berhenti. Ibu melepas pelukannya, kini ia memandang lekat-lekat anak satu-satunya.
“Ibu sudah berulang kali memberitahu kau Edgar, jangan berkelahi lagi. Ibu tidak suka kau selalu pulang dengan wajah biru-biru. Sudah saatnya kau mulai memikirkan tujuan hidupmu. Ibu tak akan menasihatimu lagi, ini nasihat ibu yang terakhir.” Ibu tersenyum tipis.
“Ibu, ada yang aneh dengan ibu hari ini. Ibu memarahiku dengan nada pelan, biasanya ibu memarahiku dengan berteriak sambil memegang sapu dan berkacak pinggang. Ibu tidak apa-apa?” Edgar bertanya bingung.
“Kau ini tak pernah berhenti membuat masalah, dengarkan ibu Edgar, ada saatnya kau berhenti bermain-main dan kini adalah waktu yang tepat, semoga kelak kau menjadi anak yang bisa ibu banggakan. Ibu sayang Edgar melebihi apapun di dunia ini. Hanya satu permintaan ibu, anak satu-satunya ibu harus jadi anak yang kuat dan bahagia.” Ucap ibu sambil membelai rambut Edgar, kini Ibu memeluk Edgar lagi dan hal ini tentu saja membuat Edgar bingung.
Ibu beranjak dan ia melangkah seakan ingin keluar rumah, Edgar sungguh bingung dengan adegan ini, apa maksudnya semua ini  pikir Edgar. Edgar memanggil ibunya, “Ibu mau kemana? Bukankah ini waktunya kita makan malam?”
Ibu menengok sambil berkata, “Ibu pergi Edgar, ingat pesan Ibu!”
“Aku ikut bu, kemanapun Ibu pergi aku ikut.”
Ibunya menggeleng dan menutup pintu. Edgar masih tak percaya apa yang sebenarnya terjadi dan seketika pandangannya kabur dan menghitam. Saat membuka matanya ia mengenali ruangan itu adalah ruang sebuah rumah sakit, ia berbaring di tempat tidur rumah sakit. Iya ini bau rumah sakit pikir Edgar. Ternyata tadi ia bermimpi. Ia merasakan sakit di seluruh badannya. Yang ia ingat sebelum pingsan adalah sosok perempuan yang menghampirinya seusai dia dipukuli lelaki bertato.
“Syukurlah kau sudah sadar, hah kau membuatku khawatir. Tenang saja aku sudah membawamu ke rumah sakit dan menelpon polisi. Untung saja tepat waktu, kata dokter jika terlambat kau bisa saja mati, eh meninggal maksudku.” Kata seseorang.
Edgar mengenali orang itu, ya ia adalah perempuan yang dilihatnya sebelum tak sadarkan diri. “Kau siapa? Mengapa kau membawaku ke sini, dan apa urusannya dengan polisi?” Edgar masih bingung dengan apa yang terjadi sekarang ini.
Perempuan itu mendekat ke arah wajah Edgar, “Aku Lili, penyelamatmu. Tenang saja karena lelaki yang memukulimu akan masuk penjara aku sudah melaporkannya pada polisi.” Lili tersenyum tipis.
“Kau sudah gila? Kau hanya membuat segalanya jadi runyam.” Edgar mendengus sebal, ia beranjak dan melepas selang infus yang menancap di tangannya. Ia harus segera pergi menyelesaikan masalah ini sebelum semuanya terlambat.
“Kau tak boleh pergi, tunggu dulu....dokter pasien ini ingin kabur dok,” Lili berteriak sambil menghadang Edgar, Edgar ingin menghindar namun kondisinya yang belum benar-benar pulih menyebabkan ia tak bisa berbuat banyak.
Dokter jaga datang dan memaksa Edgar untuk tetap berbaring di tempat tidurnya. Edgar ingin berontak tapi tak bisa. Tiba-tiba datang perawat yang berlari ke arah mereka dengan muka panik.
“Dok, pasien yang datang tadi sore keadaannya memburuk. Dokter harus segera ke sana.” Nada perawat itu meninggi.
“Pasien yang pendarahan otak itu?” Tanya dokter dengan sedikit panik.
Lili yang mendengar percakap itu tiba-tiba saja kaget bukan main. “Tunggu dulu, pasien pendarahan yang datang tadi sore, apa pasien itu seorang ibu-ibu?
Perawat itu mengangguk.
“Hei, ibu-ibu itu aku yang membawanya tadi sore kesini. Aku tadi sedang mencari anggota keluarganya ke rumah di Jalan Bintang Baru No. 79, namun rumah itu tak ada orang jadi aku memutuskan untuk kembali kesini, namun aku harus mengulang kejadian yang sama.” Lili melirik Edgar di tempat tidur.
Edgar mendengar hal yang tak asing. “Tunggu dulu, kau bilang Jalan Bintang Baru No. 79, hei sapa nama ibu-ibu itu?” Tanya Edgar sedikit berteriak.
Lili mengingat-ingat dan ia berkata, “Melati, ya ibu itu namanya Melati aku membuka dompetnya untuk mencari tanda pengenal, jadi aku tahu nama dan alamatnya.”
“Oh tidak, dia ibuku!!!” Edgar berteriak diiringi kekagetan Lili, dokter, dan perawat. Edgar benar-benar takut dan ia berharap ini hanya mimpi.


To be continued....
  • 0 Comments

Jam menunjukkan pukul delapan malam dan hujan baru saja berhenti sejak siang tadi mengguyur kota ini. Sesosok perempuan berpakaian kasual sedang menutup pintu sebuah toko, toko bunga tepatnya. Toko bunga itu peninggalan mendiang ibunya, ia bertekad untuk tetap menjaga dan mempertahankannya. Setelah memeriksa dengan teliti bahwa pintu sudah terkunci dengan benar, perempuan itu mengambil payung yang ia letakkan di sampingnya sedari tadi. Tiga hari ini hujan selalu datang saat malam hari. Perempuan itu berniat untuk segera pulang, rumahnya tak jauh dari toko itu dan hanya 15 menit jika berjalan kaki. Namun, ketika ia berbalik ia mendapati sesosok laki-laki yang tak asing baginya. Laki-laki dari masa lalunya dan sekarang tepat di hadapannya dengan penampilan yang berbeda.
“Bukankah perempuan pulang sendiri malam-malam begini itu berbahaya?” Ucap seseorang.
“Edgar?” Perempuan itu terkejut dan tidak percaya mendapati sesosok laki-laki dari masa lalunya kini hadir di hadapannya.
Laki-laki itu tersenyum, “terima kasih masih mengenaliku Li”, ucap seseorang yang bernama Edgar.
Lili mematung, ia terkejut mendapati bahwa Edgar ada di depannya sedang berdiri dengan kedua tangannya yang dimasukkan ke dalam saku celananya, yang semakin membuat Lili bingung adalah tampilan Edgar yang berbeda. “Jas? Kemeja? Apa ini kau?”
Edgar tersenyum lagi, “hmmmm mungkin waktu yang mengubahku, kadang aku juga tak percaya jika ini aku.”
Lili berjalan mendekati Edgar dengan masih membawa payung berwarna jingga. “Apa yang kau lakukan di sini? Oh ya, aku dengar kau membuka restoran di kota ini. Selamat chef, kau berhasil!!”
Edgar tertegun, “dari mana kau tahu?”
“Yah, kau tahu kota kita ini kecil sekali dan aku tak akan lupa seminggu yang lalu di televisi dengan berita mencengangkan itu, seorang Edgar Prasetya memenangkan kompetisi memasak di Amerika. Kau membuat bangga kota ini Edgar.” Ucap Lili.
Tiba-tiba suasana menjadi hening karena mereka berdua menjadi diam.
Edgar mengeluarkan kedua tangannya dari saku celana sembari berkata, “kapan pernikahanmu?”
Lili kembali mematung dan tiba-tiba saja Lili menjadi gagap, “da...da...dari mana kau tahu aku akan menikah?”
“Kau sendiri yang bilang, kota kita terlalu kecil, semua orang pasti sudah tahu pemilik florist kota ini akan menikah dengan seorang polisi yang suka berpatroli di kota ini.”
Lili tersenyum kecil, “pasti dari Iza, kapan kau menemuinya?”
“Itu tak penting Li, yang jadi pertanyaan apakah kau bahagia dengan polisi itu?” tanya Edgar.
“Namanya Rizal dan tentu saja aku bahagia.” Lili membuang muka.
Tiba-tiba saja Edgar meraih tangan Lili dan mengajaknya pergi dengan sedikit berjalan cepat. Lili terkejut dan mencoba untuk melepas tangannya dari Edgar. Tetapi genggaman Edgar terlalu kuat, jelas ia kalah kuat dibandingkan dengan tenaga Edgar.
“Kita mau kemana?” tanya Lili panik.
“Ke suatu tempat, aku tak suka bicara dengan berdiri.”
Nada Lili meninggi, “ini sudah malam Edgar!!” 
“Aku tahu, tenang saja kau tak akan ku culik.” Edgar masih memegang tangan Lili.
Lili sudah tak lagi berusaha melepas tangannya, percuma saja karena Edgar terlalu kuat. Lili hanya tersenyum tipis, seperti masa lalu pikirnya. Ternyata mereka berhenti di sebuah bangunan yang tak jauh dari toko bunga Lili. Edgar melepas tangannya dari Lili, Edgar kemudian membuka pintu bangunan itu, Lili hanya termenung melihat Edgar. Setelah pintu terbuka Edgar mengajak Lili masuk ke dalam.
“Restoran?” gumam Lili.
“Ya, aku akan membukanya minggu depan dan restoran ini tak terlalu jauh dari toko bungamu itu,” Edgar mempersilahkan Lili untuk duduk.
“Aku tak paham apa maksud semua ini Edgar, kau? Membuka restoran dan tak jauh dari toko bungaku?” Lili duduk di sebuah kursi dan kini Edgar masuk ke dapur.
Lili menunggu sekitar sepuluh menit dan Edgar tak kunjung keluar, Lili kemudian cemas, pikirannya kemana-mana. Lili berpikir untuk beranjak dari tempat itu sekarang juga. Namun, ketika ia akan beranjak Edgar keluar membawa dua buah piring lengkap dengan makanan tersaji di atasnya. Edgar meletakkan piring-piring itu, ia juga melepas apron yang dikenakannya dan kini ia hanya mengenakan kemeja putihnya tanpa jas lagi.
“Selamat menikmati, ini yang hanya bisa aku persembahkan buat kamu.” Edgar meletakkan sebuah makanan yang siapapun melihatnya pasti akan tergoda untuk mencicipinya.
“Kapan kau memasaknya? Kau hanya sekitar sepuluh menit di dalam sana.” Lili terpukau sekaligus bingung.
“Ini cuma ku panaskan Li, aku takut kau pergi karena menungguku terlalu lama, kau paling tak suka menunggu bukan?” Edgar duduk di depan Lili dan bersiap-siap makan makannya dengan memegang garpu dan pisau di kedua tangannya.
“Apa maksud semua ini Edgar? Aku masih tak mengerti apa semua ini?” Nada Lili meninggi.
“Ssssssttt.. Makanlah dulu! Bicaranya nanti saja, please!” Edgar memandang Lili dalam-dalam.
“Aku ingin semua penjelasan sekarang! Jika tidak, aku tak mau makan titik,” kata Lili.  Kata Lili ketus, ia bahkan membuang mukanya.
Suasana menjadi hening, Edgar tahu bahwa ia tak akan pernah bisa menang dari seorang Lili, perempuan yang mengubah hidupnya. Kini Edgar meletakkan garpu dan pisau yang sebelumnya ia pegang.
“Baiklah, kau punya tiga pertanyaan dan aku akan menjawabnya. Pertanyaan apapun itu dan aku akan memberi jawaban terbaik yang aku bisa.”
Lili mengerutkan dahinya, ia berpikir Edgar pasti bercanda karena ia tahu seorang Edgar tak akan pernah bisa serius. Tapi ketika Lili memandang Edgar, ada yang berbeda dari seorang Edgar. Edgar yang ada dihadapannya bukanlah Edgar yang dulu selalu bercanda dan tak pernah bisa serius. Kini di raut mukanya hanya ada gurat-gurat keseriusan.
“Pikirkan dengan baik, karena dengan tiga pertanyaan yang akan kau ajukan padaku sekarang tak akan ada lagi pertanyaan-pertanyaan di masa depan.”
Baik Edgar maupun Lili kini sama-sama diam, Lili semakin bingung dan Edgar menanti pertanyaan dari Lili. Malam semakin dingin karena di luar hujan turun lagi.


To be continued....
  • 0 Comments
Photo taken from id.gofreedownload.net

“Kau tahu, segala sesuatu yang terjadi adalah jalan yang harus kita lewati. Dunia terus berputar, kita ada untuk berjalan di dunia yang berputar itu, ketika waktumu habis, kau akan berhenti dan melangkah ke perjalanan lain.”
***

Tiba-tiba seseorang sudah berada di pintu kamar lelaki itu, “Ta, sekarang sudah waktunya kita berangkat.”
“Sebentar Bu, aku harus mencari jas hitamku terlebih dahulu.” Kata lelaki itu sambil membuka lemari pakaiannya.
Ibu menghela napas dan berkata, “kalau begitu Ibu tunggu di bawah ya Sapta.”
Sapta mengeluarkan mobil dari garasi setelah 10 menit ia bersiap-siap dan menemukan jas hitamnya. Mereka berdua akan pergi jauh, kembali ke rumah mereka dulu, rumah yang mereka tinggali berpuluh-puluh tahun. Mereka akan ke tempat di mana kenangan-kenangan tersimpan, kali ini mereka kembali untuk seseorang yang sudah sejak lama tersimpan di hati mereka.
Sesampainya mereka di kota mereka dulu Sapta bertanya pada ibunya, “bagaimana penampilanku Bu?”
“Kau masih sama seperti yang dulu, satu-satunya anak Ibu yang terhebat.” Ibu merapikan dasi yang dipakai Sapta.
“Aku bahkan tak tega melihat dia bersedih Bu, bagaimana aku bisa menghiburnya, kupikir dia tak akan mau melihatku lagi.” Sapta menatap mata Ibu lekat-lekat.
Ibu sedikit tersenyum dan berkata pelan, “dia tetap perempuan yang kau cintai 10 tahun ini, jika dia tak mau melihatmu kita segera pulang, begitu yang kita bicarakan semalam.”
“Baiklah, ayo Bu! Selesaikan ini dengan cepat.” Sapta mengangguk dan keluar dari mobil.
Sapta salah, ketika ia pikir dapat menyelesaikannya dengan cepat sekarang ia justru terhanyut dengan perasaan yang telah ia coba kubur 10 tahun ini. Kini ia melihat perempuan yang membuat dunianya terbalik, ia melihat perempuan itu dari kejauhan. Tiba-tiba saja perasaan itu datang, perasaan saat pertama kali ia melihat sesosok perempuan yang ia cintai. Perasaan yang membuat ia mengingat kejadian 12 tahun lalu.
12 tahun yang lalu, sebuah universitas.
“Hei mahasiswa baru, cepetan! Lambat banget, kalian bukan anak siput kan!!” teriak seseorang.
Tiba-tiba dari kejauhan ada seorang mahasiswa baru yang berkata, “Kak, ada yang pingsan....tolong!”
“Woooii manja banget, baru gini aja pingsan. Mar lo urus deh itu yang pingsan!” kata orang itu.
“Kok gue sih Rif?” Tanya Amar.
“Terus siapa? Nenek gue? Ya lo lah!” Teriak orang yang bernama Arif tersebut.
Amar beranjak dan mendatangi mahasiswa baru yang pingsan. Sementara itu, Arif yang sedang asyik duduk tiba-tiba didatangi seorang mahasiswa baru.
Mahasiswa baru itu berkata, “Jadi ketua ospek kerjaannya nyuruh-nyuruh doang? Bukankah ketua ospek yang baik itu gak cuma nyuruh-nyuruh aja. Bagaimana kalau teman saya kenapa-kenapa, hanya karena dia tidak cepat ditolong. Rasa empati kakak di mana?”
“Lo siapa? Berani-beraninya lo ngomong gitu sama senior!!” Arif beranjak dari tempat duduknya dan ia berkacak pinggang.
“Saya Aini, dari jurusan psikologi.” Kata Aini dengan menyeka peluhnya.
“Berani juga lo, sekarang lo lari keliling lapangan tujuh kali!!” Arif berteriak.
Pada saat itu juga Sapta mendengar Arif membentak Aini, ia sudah lama memerhatikan kejadian mahasiswa pingsan tadi karena kejadian itu tak jauh dari tempat di mana sekarang ia berada.
“Tapi Kak, Kakak udah bersikap ga sepantasnya jadi seorang ketua ospek. Kakak malah nyuruh orang lain.” Kata Aini tidak terima.
“Suka-suka gue lah... Lo ngomong sekali lagi, hukuman lo jadi gue tambahin tiga kali putaran. Sepuluh putaran lari keliling lapangan!!” Arif tambah geram dengan perkataan Aini.
Aini kesal, dari pembicaraannya dengan Arif ia tahu bahwa Arif adalah orang yang egois dan keras kepala. Ia tak mau semua orang semakin melihat dirinya dipermalukan. Alhasil dia lari keliling lapangan dengan kesal, ia kecewa dengan dirinya sendiri yang kalah dengan keadaan. “Gini ni yang bikin ospek jadi jelek di mata mahasiswa baru,” pikir Aini.
Aini terus berlari mengelilingi lapangan. Dari kejauhan, Sapta memandang sesosok perempuan yang tangguh. Detik itu juga ia tahu bahwa ia menyukai perempuan itu.
Sepulang dari ospek, Sapta menunggu bus di halte depan kampus. Tak jauh dari dia berdiri, ia melihat Aini dan teman-teman yang juga sedang menunggu bus. Teman-teman Aini naik bus yang baru saja datang, Sapta masih memandangi Aini yang kini sendirian menunggu bus, Sapta seharusnya naik bus yang sama dengan teman-teman Aini, tapi ia tidak naik. Ia ingin lebih dekat dengan Aini, barangkali bisa berkenalan pikirnya. Ketika Sapta akan mendekati Aini, bus datang lagi, kali ini Aini naik. Tanpa pikir panjang, Sapta juga naik bus tersebut.
Aini duduk di salah satu kursi penumpang, bus begitu lengang tidak banyak penumpang kala itu. Sapta duduk di kursi penumpang tepat di belakang tempat duduk Aini. Sapta dapat melihat Aini dari pantulan kaca bus. Cantik, pikir Sapta. Tiba-tiba saja kepala Aini terbentur kaca, ternyata Aini tertidur karena mungkin saja Aini kelelahan. Dengan sigap Sapta menjulurkan tangannya, ia jadikan tangannya sebagai alas kepala Aini agar Aini tak lagi terbentur kaca. Sapta tersenyum, hingga kemudian sopir bus berteriak bahwa mereka akan sampai di halte pemberhentian bus selanjutnya. Aini terbangun, dengan cepat Sapta menarik tangannya. Aini beranjak dari tempat duduknya dan bergegas untuk keluar.
Aini berada di luar bus, bus berangkat lagi. Sesaat Aini berbalik dan menatap bus yang baru saja ia naiki. Dan hal itu terjadi begitu saja. Mata mereka bertemu, Sapta terkejut dan terlihat salah tingkah. Hingga Aini pun tersenyum.
Sapta tak akan melupakan senyum itu, senyum 12 tahun yang lalu di perjalanan pulang mereka. Kini, Sapta hanya melihat sesosok perempuan yang kehilangan senyum indahnya. Ia mendapati sesosok perempuan yang menangis, menangisi sebuah gundukan tanah yang masih banyak terdapat bunga mawar di atasnya. Ya, hari itu Sapta menghadiri pemakaman Adi, suami Aini.
Aini masih berdiri di depan makam Adi. Ia menangis, menangis tersedu-sedu. Orang-orang sudah pulang sejak tadi, hanya ada beberapa orang di sana. Sapta mengenali mereka sebagai ayah dan ibu Aini, lainnya ia tak tahu, mungkin saja kerabat Aini dan Adi. Sapta menghampiri Aini yang sedang sendirian menatap poto Adi. Sapta menggenggam tangan Aini. Aini terperanjat dan mendapati Sapta sudah berdiri di sampingnya. Tangisnya semakin pecah, kini Aini menangis di pelukan Sapta.
“Ia pergi Ta, ia pergi.” Aini masih menangis dengan keras dalam pelukan Sapta.
“Aku tahu, aku tahu.” Kata Sapta menenangkan Aini.
“Kenapa semua orang ninggalin aku, aku salah apa?” Kini Aini menyeka air matanya.
“Kau tidak salah, semuanya sudah takdir.” Sapta masih menengkan Aini.
“Aku benci perpisahan Ta,” tangis Aini kini terdengar sudah mereda.

Datanglah bila engkau menangis, ceritakan semua yang engkau mau
Percaya padaku, aku lelakimu
Mungkin pelukku tak sehangat senja, ucapku tak menghapus air mata
Tapi ku di sini sebagai lelakimu
Aku lah yang tetap memelukmu erat, saat kau berpikir mungkin kan berpaling
Aku lah yang nanti menenangkan badai, agar tetap tegar kau berjalan nanti

“Kau tahu, segala sesuatu yang terjadi adalah jalan yang harus kita lewati. Dunia terus berputar, kita ada untuk berjalan di dunia yang berputar itu, ketika waktumu habis, kau akan berhenti dan melangkah ke perjalanan lain. Kau di sini harus tetap berjalan, dan Adi sudah memulai perjalanan lainnya. Ia akan menunggumu di sana. Aku yakin itu Aini,” Sapta melepas pelukannya, ia menatap Aini dengan lekat.
Aini menghapus air matanya, ia pergi meninggalkan Sapta, sesaat kemudian ia menggandeng sesosok anak laki-laki yang memiliki mata Adi, paras wajah Adi, dan cara berjalan sama persis dengan Adi.
“Dia matahariku Ta, dia yang mampu membuat aku bertahan. Namanya Bian. Umurnya 5 tahun, dia malaikatku.” Aini berlutut kemudian ia mencium kening Bian.
Sapta maju dan ikut berlutut, “halo jagoan, siapa namamu? Perkenalkan, nama Om adalah Sapta.” Sapta mengusap-usap kepala Bian yang berambut ikal, sama seperti Adi.
“Namaku Bian Om Ta,” Bian tersenyum.
Sapta mengingatnya, senyum 12 tahun yang lalu itu hadir kembali. Aini mewariskan sebuah senyum yang indah pada Bian. Hanya sebuah senyuman yang mampu menggetarkan hati Sapta kembali. Sapta memeluk Bian dengan erat, ia tahu, semesta pun tahu, bahwa mulai sekarang ia harus menjaga Aini dan Bian. Tanpa dugaan apapun, tanpa konsekuensi apapun, sekarang hingga nanti.
end

*Aini dan Sapta comeback!! Sebenarnya cerita ini udah selesai, atas permintaan Noor Aini Kiasatina cerpen ini terlahir kembali (This is a gift for your pendadaran’s day! Enz....!!). Mau tidak mau, saya harus menggodok ide cerita yang hanya sekelabat kadang-kadang muncul.
*Terima kasih Virzha dengan Aku lelakimu-nya! Perfect song!
*Mudah-mudahan Aini dan Sapta kembali lagi! Dengan Bian tentunya!!

  • 0 Comments

Perempuan itu kini sudah berusia 20 tahun, ia berada di sebuah ruangan dengan meja bar yang tinggi. Ia berada di ruang istirahat stasiun radio, entah hal apa yang merasuki dirinya hingga ia mau menjadi penyiar di radio tersebut, semua itu gara-gara Aini sahabatnya yang juga sama-sama penyiar di radio tersebut. Kini ia hanya memandang minuman yang ada di hadapannya. Ia dikejutkan dengan seseorang yang memanggil namanya.
“El....”
Perempuan bernama El itu menoleh. “Ada apa Kak Nirma?” Tanya ia pada seseorang bernama Nirma yang merupakan manajer siar di radio tersebut.
“10 menit lagi giliran kamu siaran, Aini udah mau selesai, buruan ya!” Perintah Nirma.
“Siap bos!” El menengadah membuat gerakan hormat.
El sampai di ruang siaran ketika Aini baru saja menyelesaikan siarannya. Sekilas menyapa Aini kemudian El bergegas untuk mempersiapkan siarannya. Ia memulai siarannya yakni sebuah program yang berisi curahan hati pendengar, dimana pendengarnya bebas untuk mencurahkan apa yang ingin ia sampaikan. El sangat senang mendengar cerita-cerita yang disampaikan pendengar setianya di program ini. Banyak kejadian entah itu lucu, haru, sedih, bahagia, dan bangga ada di dalam cerita-cerita yang disampaikan para pendengar dalam program ini.
Setelah musik berakhir, ia mulai bercuap-cuap lagi, “Satu musik keren dari Sara Bareilles yang berjudul Gravity, lagu gagal move ini sukses memporakporandakan pertahanan hati orang-orang yang mau move on, apakah kamu salah satunya sahabat pendengar? Hmmm.. kadang kita butuh kekuatan lebih untuk melepas seseoarang yang telah lama di hidup kita, meskipun kita jarang menerimanya dengan lapang dada, justru itulah hakikat sesungguhnya sebuah penerimaan. Kau tak akan pernah tahu jalan kisahmu sendiri. Oke, tema kita hari ini adalah hal yang berhubungan dengan move on. Kamu bisa telepon sekarang juga dan kamu bebas menceritakan apapun dalam kehidupanmu dan tentu saja harus berhubungan dengan tema kita hari ini, yakni move on.” Kata El dengan nada riang.
El menunggu penelpon masuk. Tak selang berapa lama ada bunyi telepon. Pertanda ia akan siap menyimak cerita apapun dari sahabat pendengar kali ini.
“Halo, siapa disana?” Sapa El.
“Ehmmm, bolehkah saya tidak menyebut nama saya?” Suara laki-laki di ujung sana.
El tiba-tiba kikuk, “Ehhmm...mmmm..boleh, tak apa, tapi aku harus memanggilmu apa sahabat pendengar?”
“Panggil saja saya laki-laki baik hati.” kata laki-laki itu.
“Wah, kau percaya diri sekali, apakah benar kau baik hati?” Tanya El dengan rasa bingung.
“Mantan kekasih saya yang menyebut saya demikian, ini perihal saya dan dia, saya ingin menceritakan kisah kami.” Lelaki itu menjawab dengan penuh yakin.
Dalam hati El berkata, “Aku kenal suara ini, Hafi. Tidak salah lagi. Jangan-jangan yang dia maksud mantan kekasih itu.....”
“Halo.....apakah saya boleh bercerita?” Lelaki itu bertanya pada El.  
El berpikir keras, ia yakin bahwa suara si penelpon yang akan mengutarakan kisahnya kali ini adalah Hafi, tapi bagaimana jika Hafi berbicara yang tidak-tidak.
El takut, “Kau yakin?”
“Seratus persen aku yakin, aku ingin kau mendengarnya dan seluruh pendengar radio ini,” Kata Hafi yang memberi penekanan pada kata kau.
“Emm...baiklah, kau boleh bercerita.” El masih diliputi perasaan was-was dan risau. Mimpi apa ia semalam bagaimana bisa Hafi akan menjadi pencerita kali ini.
Hafi memulai ceritanya, “Bagaimana rasanya kau tiba-tiba diputus begitu saja ketika kau yakin hubungan kalian baik-baik saja, bagaimana rasanya tiba-tiba menerima kenyataan itu disaat kau yakin bahwa yang ada dalam hubungan kalian hanya tawa?”
Hening sejenak.
Kemudian Hafi melanjutkan ceritanya, “Aku tak paham dengan jalan pikirannya, bahkan sampai saat ini aku belum mendengar alasan yang pasti mengapa dia memutus hubungan ini, semua orang semakin beranggapan yang tidak-tidak. Kita dulu berjanji akan tiba di akhir perjalanan yang sama ketika kita di perahu yang berbeda. Semua sudah tinggal harapan hampa.”
El masih terdiam, bagaimana bisa Hafi menggunakan kata kita di sini, ia hampir menahan tangisnya agar tak keluar, ini masih siaran pikirnya. Hafi masih bercerita, ia kadang berhenti sejenak untuk mengambil napas dan sesekali El menanggapinya hanya dengan suara hmmm.
El mengumpulkan segenap tenaga untuk bertanya, “Apa yang kau inginkan dari dia wahai laki-laki baik hati.”
Hafi tertawa, El menjadi bingung.
“Lucu, aku malah ingin dia bertanya seperti kau barusan.”
El tercengang, ulu hatinya seperti tertohok dengan kata-kata yang baru saja diucapkan oleh Hafi.
Hafi melanjutkan, “Aku hanya ingin sebuah kejelasan darinya, keluar dari mulutnya sendiri dan aku tak akan pernah berharap lebih, aku akan mencoba menerima semuanya...ya semuanya.....dan aku tahu hal itu pasti akan mendobrak batas akal sehatku untuk memaklumi dan memahami setiap perkataannya. Aku ingin sebuah kejelasan apakah aku boleh melupakannya atau tidak, apakah aku boleh menutup pintunya dan membiarkan orang lain masuk atau tidak.”
 “Untuk apa? Bagaimana jika kau semakin terluka dengan jawabannya?” Tanya El.
“Aku tahu kita akan sama-sama terluka, dia dengan pertanyaanku dan aku dengan jawabannya, dulu dia yang pernah bilang bahwa setiap orang punya rasa takut, menghindar atau melawan adalah jalannya, dan dia juga yang selalu bilang bahwa jalan menghindar hanya untuk seorang pengecut.”
“Baiklah laki-laki baik hati, maaf tapi waktu untuk kau bercerita sudah habis, kau boleh request satu musik keren.” El memotong.
“Terima kasih sudah memperbolehkan aku bercerita di sini, aku yakin dia mendengar ceritaku, satu hal lagi yang ingin kukatakan padanya, aku hanya ingin dia jangan pernah berkata pada orang-orang bahwa dia sudah move ketika alasan yang ia berikan padaku saja tak jelas, sekali lagi terima kasih. Aku ingin mendengarkan Raisa dengan lagunya mantan terindah.”
“Baiklah, laki-laki baik hati terima kasih sudah berbagi kisah dengan seluruh sahabat pendengar, see you.” Kata El mengakhiri percakapan tersebut.
Namun, sebelum menutup teleponnya Hafi berkata, “Aku merindukannya.”
El terkejut seketika, ia diam seribu bahasa. Sampai Kak Nirma mengkode agar El tetap melanjutkan siarannya. “Satu musik keren dari Raisa dengan mantan terindah check this song guys, dan terkhusus untuk laki-laki baik hati yang udah request.”
Mengapa engkau waktu itu putuskan cintaku
Mau dikatakan apa lagi kita tak akan pernah satu
Engkau di sana aku di sini
Meski hatiku memilihmu
Andai ku bisa ingin aku memelukmu lagi
Oh di hati ini hanya engkau mantan terindah yang selalu kurindukan
Yang telah kau buat sungguhlah indah
buat diriku susah lupa.....
Lirik-lirik lagu itu masih menggantung di langit-langit ruang siaran ketika El memejamkan matanya, sungguh ia berharap ini hanya sebuah mimpi.
***
Pukul 9 malam, El selesai siaran dan ia bergegas untuk pulang. Ia berpapasan dengan Aini.
“Aini kau belum pulang? Sapta belum menjemputmu?” Tanya El.
“Belum El, di luar hujan dan mungkin saja Sapta sedang berteduh entah dimana, maklum dia menjemputku dengan sepeda bututnya,” Aini terkekeh.
“Butut-butut begitu, punya sejuta kenangan tau.” El tertawa.
Tiba-tiba di luar sudah nampak Sapta yang basah kuyup. Aini segera berpamitan dengan El.
“Sampai jumpa Aini, hati-hati di jalan, salam untuk Sapta.” Kata El.
El juga sedang menunggu jemputan. Di luar ada seseorang pastilah itu jemputannya, pikir El. Namun setelah ia keluar dari bangunan tersebut, ia terperanjat bukan main. Orang itu bukanlah orang yang akan menjemputnya, melainkan.....
“Hafi, apa yang kau lakukan di sini?” El terpaku seketika.
to be continued


*Cerpen ini merupakan sekuel dari Perjalanan Hati: A Decision
*Didekasikan untuk sahabat saya ELGA MAULINA
*Terima kasih Raisa dan mantan terindah-nya.





  • 0 Comments

Seorang perempuan berusia 17 tahun sedang duduk di sebuah kafe, dia meminum cappuccino scuro yang dia pesan. Dia gelisah, terlihat jelas dari cara duduknya yang tak nyaman. Dia hanya menunduk, dia sedang mengumpulkan keberanian untuk mengambil sebuah keputusan. Keputusan yang sangat berat.
Pintu kafe terbuka, sesosok pemuda yang masih mengenakan seragam sekolah masuk ke dalam kafe. Dia mengedarkan pandangannya dan mencari seseorang, dia tersenyum, dia menemukan sesosok perempuan yang masih mengenakan seragam sekolah yang sama dengan yang dia kenakan, dia sedang meminum cappucinno scuro, minuman favoritnya. Dia menghampiri perempuan itu.
“Maaf menunggu terlalu lama, aku harus menyelesaikan urusan di sekolah, ada apa kau menyuruhku ke mari?” Kata pemuda itu sambil menarik kursi dan duduk di hadapan perempuan tersebut.
Perempuan itu memandang lekat-lekat sang pemuda. Tanpa basa-basi perempuan itu berkata,“Aku mau kita sampai di sini saja,” perempuan itu kemudian menunduk.
“Apa maksud kamu El?” Tanya pemuda itu penuh kebingungan.
“Aku tahu ini berat, tapi ini keputusan yang sudah aku pikirkan jauh-jauh hari. Aku lelah seperti ini terus Haf. Aku capek dengan segala omongan orang-orang di belakang kita.” Kini perempuan itu terisak dan menangis.
“Bukankah yang ngejalani hubungan ini kita El, bukan mereka. Kau tak perlu memikirkan omongan tak penting mereka.” Kata Hafi menenangkan.
“Keputusanku sudah bulat, aku harus berpisah denganmu.” Perempuan bernama El itu menyeka air matanya.
“Kau tahu sejak awal aku mencintaimu karena apa. Senyum dan ketulusanmu itu, tidak lebih dan kau tahu itu. Aku tidak pernah peduli orang mau berkata apa tentang kita!!” Hafi sedikit marah.
Kini Hafi beranjak dan pergi, ia meninggalkan El yang menangis dan semakin terisak dalam tangisnya. Ia tidak peduli dengan pengunjung kafe yang lain, pasti mereka sudah beranggapan bahwa mereka sedang menyaksikan adegan drama layaknya di ftv-ftv. El ingin beranjak dan pulang, ia ingin segera sampai rumah dan menangis lebih keras. Sebelum ia beranjak dari tempat duduknya, tiba-tiba Hafi ada di depannya. Kini ia di samping tempat duduk Elga, tiba-tiba saja Hafi berlutut dengan satu kakinya.
Ia berdeham dan berkata, “aku mau kamu jadi tempat pemberhentianku, bukan cuma sekedar tempat peristirahatanku. Aku mau kamu jadi rumahku tempat aku pulang dan kembali.”

to be continued
  • 0 Comments


“Karena sepenuh diriku mencintai sepenuh dirimu
Kucinta lengkungan dan semua tepimu
Semua ketidaksempurnaanmu yang sempurna....
Berikanlah sepenuh dirimu padaku, kan kuberikan sepenuh diriku padamu
Kaulah akhir dan awalku, meski saat kalah pun aku menang
Karena kuberikan sepenuh diriku padamu, dan kau berikan sepenuh dirimu padaku....”
***

Sabtu petang, pukul 18.30, saat senja baru saja akan pergi dan digantikan langit malam

188 hari telah mereka lalui bersama sebagai sepasang kekasih. Mereka tak menyangka bahwa waktu berlalu begitu cepat. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, mungkin karena yang ada hanya tawa sehingga mereka lalui hari-hari tanpa kesedihan. Hidup hanya sekali, ketika kau sedih untuk satu menit dalam hidupmu kau akan kehilangan 60 detik kebahagiaan saat itu juga. 
Malam ini Sapta dan Aini akan pergi ke pusat kota karena di sana ada pasar malam. Hari yang mereka tunggu, pasar malam jarang ada di kota mereka. Bianglala, rumah hantu, dan segala sesuatu yang terdapat di pasar malam sudah mereka nantikan. Seperti biasa, Sapta menjemput Aini dengan sepedanya. Sesampainya di pusat kota, pasar malam sudah begitu ramai, banyak wahana, penjual makanan, dan panggung musik. Benar-benar ramai pasar malam yang ada di pusat kota. Sapta dan Aini mencoba seluruh wahana yang ada di pasar malam tersebut. 
Kini mereka ada di bianglala dan di titik tertinggi dari bianglala tersebut. Malam sungguh indah saat Sapta menggenggam tangan Aini dan berkata,
“Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih sudah bersamaku 188 hari ini. Terima kasih karena kau mampu membuat hitamku terasa menjadi putih, saat aku butuh seseorang dengan sigap kau selalu ada. Terima kasih kau bagaikan fajar yang menantikan pagi ketika menungguku, percaya dengan sangat yakin bahwa aku pasti datang.” 
Aini menatap Sapta lekat-lekat, “Aku yang seharusnya mengucapkan itu semua, terima kasih memberiku sebuah kepercayaan, 6 bulan ini aku benar-benar merasa menjadi diriku sendiri dengan adanya dirimu di sampingku.” 
“Ingatkah kau pertama kali kita bicara berdua di toko buku, memandang dunia dari atas bukit, dan bernyanyi berdansa bersama. Aku akan mengingat itu semua dan akan kucatat dalam lembaran kisahku yang tidak akan pernah aku lupakan seumur hidupku, bahwa inilah 188 hari terbaik dan terindah yang pernah aku rasakan.” Sapta sedikit menghela napas. 
“Kau bicara seperti itu seperti kau akan pergi jauh saja Ta. Tapi, terima kasih juga telah membukakan mataku tentang siapa sebenarnya Kak Arif itu, orang yang benar-benar brengsek.” Aini tertunduk.
Sapta tersenyum. 
Kemudian Sapta melepas genggamannya, ia membelai rambut Aini. perlahan ia mencium kening Aini dan berkata, “Aku benar-benar mencintaimu.”
“Aku juga.” Aini memejamkan matanya dan tersenyum. 
“Ayo kita ke atas bukit, aku ingin menunjukkan sesuatu.” Sapta berkata pelan
Aini mengangguk.
Mereka meninggalkan pasar malam yang ada di pusat kota. Sekarang mereka menuju atas bukit tepi kota. Malam benar-benar indah, cahaya bulan yang terang melingkupi dan bintang-bintang yang bercahaya. Mereka sampai di atas bukit. Aini sungguh terkejut, atas bukit benar-benar berbeda. Banyak lampion-lampion yang digantung di dahan pohon. Jalan menuju bangku terdapat lilin-lilin berwarna di sisi kanan dan sisi kiri. Sapta tersenyum dan berkata, “Aku meminta bantuan teman-temanku untuk ini.”
Kini mereka duduk di bangku atas bukit. Sapta mengambil sesuatu dari saku celananya. Sebuah liontin.
“Ini semua aku persiapkan untukmu.” Kata Sapta sambil memasangkan liontin tersebut ke leher Aini.
Aini memegang liontin. “Ini sungguh indah, terimakasih.” 
“Kau harus benar-benar menjaganya, karena itu satu-satunya benda yang akan menjadi kenangan kita.”
“Kenangan? Maksudmu apa Ta?” Aini terperanjat.
“Malam ini hanya kau dan aku, mengenang semuanya. Aku tahu ini sulit, begitu juga aku yang akan menyampaikan hal ini.” Sapta mengusap wajahnya.
Lengang, yang ada hanya suara binatang-binatang malam di pohon atas bukit.
Sapta menghela napas panjang, “Aku tak pernah tau Tuhan mempertemukan kita untuk apa, begitu juga dengan Tuhan yang mengatur takdirku. Bisa saja pada akhirnya aku memang di sisimu atau aku harus pergi ketika sudah waktunya.”
“Ta, aku bingung kamu bicara apa. Pergi? Siapa yang pergi?” Aini kini terisak.
Sapta tertunduk, “Aku harus pergi besok, ayah dipindahtugaskan ke kota lain. Aku sudah mengatakan aku tidak mau untuk pindah. Tetapi ayah memaksa, aku ragu. Karena ini keputusan yang berat, aku tak mau jadi seseorang yang egois.”
Aini terisak semakin dalam, “Kamu gak mikirin aku Ta? Hubungan kita yang udah 6 bulan ini.”
Sapta memegang bahu Aini, “Jika kebahagiaan ini bukan milik kita. Berarti Tuhan sedang meminjamkannya untuk orang lain. Dan apakah kau tahu pelajaran tersulit di dunia ini?”
Aini tidak menjawab, ia menangis tersedu-sedu.
Sapta berkata pelan, “Ikhlas.”
Kini semua benar-benar membisu.
Hingga, Aini beranjak dari bangku dan berlari sambil menahan tangisnya. Sapta lalu mengejarnya. Sapta berhasil mengejar Aini, kini ia memeluk Aini dari belakang. Aini masih menangis tersedu-sedu. 
“Di bawah langit kota ini, aku berani bersumpah bahwa kau adalah hal terindah yang pernah ada di hidupku dan katakan pada embun pagi bahwa segala sesuatunya memang harus seperti ini. Aku pernah menjatuhkan setetes air mata di luasnya samudera. Jika aku bisa menemukannya lagi, maka disaat itulah aku berhenti mencintaimu.”
“Apa yang akan terjadi dengan cinta...apa yang akan terjadi dengan kita?” Aini masih menangis tersedu-sedu. 
Sapta memeluk Aini semakin erat, “Meskipun kau tak bersamaku, aku hanya berdoa yang terbaik untukmu. Meski doa itu menyebut seseorang agar bisa menggantikan kedudukanku di hatimu. Semua akan baik-baik saja.”
“Tidak, semua ini tidak akan baik-baik saja. Kau benar-benar jahat, menyiapkan ini semua hanya untuk kamuflase semata. Kau benar-benar pintar.” Aini berbalik dan memukuli dada Sapta. “Dan satu lagi, tidak akan ada orang lain yang dapat merubah kedudukanmu di hatiku.”
Sapta memeluk Aini, ia juga menahan tangis. Ia benar-benar tak habis pikir, ia dengan susah payah mendapatkan Aini, dan kini ia harus melepas dengan mudahnya. “Waktu terbaik yang kita miliki sudah berlalu, apapun yang terjadi pasti akan selalu berakhir dan jika sesuatu yang baik harus berakhir, percayalah bahwa yang lebih baik lagi akan dimulai.” Sapta membelai rambut Aini, menatap langit malam yang indah sambil menahan tangis. Ia tak mau menujukkan kerapuhannya pada Aini. 
“Aku benci keadaan ini, buat apa 6 bulan ini kamu ada di sampingku. Kamu...” Aini menahan kata-katanya.
Sapta menyahut, “Aku yang menjadi pemuja rahasiamu, aku yang menjadi teman bicaramu, aku yang menjadi sahabatmu, aku yang menjadi kekasihmu, aku yang menjadi malaikat penjagamu, itu aku selama 6 bulan ini. Dan sekarang aku yang akan menjadi kenanganmu.”
Aini semakin keras menangis. Sapta menyeka air mata Aini dan berkata, “Kau tahu bahwa pada setiap kisah harus ada yang berkorban, pada titik inilah kita sama-sama sedang berkorban dan semoga pengorbanan kita tidak akan pernah sia-sia.”
Malam ini semua indah, hanya saja kisah pada malam panjang harus berakhir pada sebuah keputusan yang memilukan. Ketika semua ingin bermuara pada kebahagiaan, kadang harus melalui seribu kesedihan terlebih dahulu. Butuh lebih dari sekedar kekuatan untuk membalikkan halaman dan membuka halaman selanjutnya agar kita sampai pada akhir cerita. 
Keesokannya Aini mengantar kepergian Sapta, ia sedang ada di rumah Sapta. Rumahnya sudah benar-benar kosong. Orang tua Sapta sudah berada di mobil yang mengantar kepindahan mereka. 
“Jadilah perempuan yang selalu tegar, mampu berdiri di atas kakinya sendiri dan mampu menghapus air matanya sendiri.” Kata Sapta sambil menggengam tangan Aini. 
Kini Sapta pergi, menyisakan kenangan yang telah mereka bangun selama 6 bulan ini. Aini belum beranjak dari rumah Sapta. Ia menangis untuk kesekian kalinya dan memegang liontin yang diberikan Sapta. 
***
5 tahun kemudian ketika semua sudah berubah
Aini sedang duduk di bangku atas bukit tepi kota, entah sudah berapa lama ia sudah duduk di sana. Senja kini datang dengan cepat, langit lembayung yang sungguh indah. Seorang laki-laki menghampiri Aini.
“Kau tahu, di tempat inilah aku merasa sangat damai. Benar-benar tempat yang sangat indah.” Kata Aini.
“Aku tahu, semua kenanganmu ada di tempat ini. Tetapi sekarang kita harus pulang, aku tak mau membuat ibu khawatir.” Kata laki-laki tersebut.
Aini beranjak, mereka pulang ditemani senja. Tiba-tiba saja mereka dikejutkan dengan kehadiran seseorang. Aini berkata pada lelaki yang ada di sampingnya, “Kau pulang duluan saja, aku ingin berbicara sebentar dengan teman lamaku ini.”
Lelaki di samping Aini menuruti perkataan Aini, ia kemudian pulang.
“Kau datang begitu cepat. Aku menyuruhmu datang esok lusa, Ta.” Kata Aini pada lelaki tersebut. 
Sapta mengangguk pelan, “Jadi dia orangnya, orang yang kau ceritakan di setiap pesanmu. Sepertinya ia benar-benar mencintaimu.”
“Ya, dia Adi yang selalu kuceritakan padamu lewat pesan.” Aini tertunduk.
“Jika kau ragu, ikuti kata hatimu. Beri pertanyaan pada dirimu sendiri dan temukan sebuah jawaban. Belajarlah untuk mempercayai apa yang dikatakan hatimu.”
“Bahkan saat seperti ini kau masih bisa menasihatiku.”
“Bagaimana kabarmu?” Tanya Sapta sambil memeluk Aini.
“Kau teramat benar, aku belajar sabar dari sebuah kemarahan, aku belajar bersyukur dari sebuah kebahagiaan, aku belajar mengalah dari sebuah keegoisan, dan aku belajar tegar dari kehilangan.” Jawab Aini sambil melepas pelukan Sapta. 
Sapta mengernyitkan dahinya. 
“Aku belajar itu semua darimu, terima kasih.” Aini duduk kembali di bangku.
Sapta juga ikut duduk, “Apakah kau benar-benar yakin dengan semua ini? Apakah kau yakin dia pilihan hatimu?”
Aini menatap Sapta, “Kenapa? Apa kau sekarang sedang berusaha menggagalkan pernikahanku besok lusa?” 
“Kau sudah benar-benar dewasa sekarang.” Sapta tersenyum. 
Aini menyandarkan kepalanya di bahu Sapta, senja berganti menjadi malam. Perasaan menenangkan itu datang lagi. Tepat seperti 5 tahun lalu, saat semua masih baik-baik saja.
Keesokan harinya, Aini tergopoh-gopoh datang ke atas bukit, dia datang sendiri. Di sana sudah ada Sapta, dia duduk di depan sebuah piano berwarna putih. 
“Ada apa? Apa kau tahu ketika aku melihat pesanmu, jantungku rasanya mau keluar. Apa kau tidak tahu bahwa aku sedang sibuk mengurus pernikahanku besok?” Tanya Aini sambil mengatur napasnya. 
Sapta tersenyum, “Aku sudah memikirkan ini dari dulu, suatu hari saat kita menikah, aku akan menyanyikan sebuah lagu untukmu di pernikahan kita dengan konsep serba putih. Kau ada di ujung sana dan memandangku yang sedang di depan piano, bersiap untuk bernyanyi. Saat aku bernyanyi kau menghampiriku dan kita kan bernyanyi bersama. 
“Kau gila, Ta.” Aini kini duduk di bangku.
“Dengarkan lagu ini, dan bayangkan semuanya kan indah pada waktunya.” Sapta bersiap menekan tuts-tuts piano yang ada di depannya. Kini ia mulai dengan menekan tuts membentuk sebuah intro. Kemudian Sapta bernyanyi....
“What would I do without your smart mouth....Drawing me in, and you kicking me out....Got my head spinning, no kidding, I can’t pin you down....What’s going on in that beautiful mind....I’m on your magical mystery ride....And I’m so dizzy, don’t know what hit me, but I’ll be allright....”
“My head’s underwater....But I’m breathing fine....You’re crazy and I’m out of my mind....”
“Cause all of me....Loves all of you....Love your curves and all your edges....All your perfect imperfections....Give your all to me....I’ll give my all to you....You’re my end and my beginning....Even when I lose, I’m winning....Cause I give you all of me....And you give me all of you....”
Sapta sesekali melihat Aini. Aini membalas tatapan Sapta dengan tatapan kosong,  tiba-tiba ia beranjak dari bangku dan menghampiri Sapta. Sapta melanjutkan nyanyiannya,
“How many times do I have to tell you....Even when you're crying you're beautiful too....The world is beating you down, I'm around through every mood....You're my downfall, you're my muse....My worst distraction, my rhythm and blues....I can't stop singing, it's ringing, in my head for you....”
Aini melingkarkan tangannya di leher Sapta dari belakang, Sapta tetap melanjutkan nyanyiannya...
“My head’s underwater....But I’m breathing fine....You’re crazy and I’m out of my mind....”
“Cause all of me....Loves all of you....Love your curves and all your edges....All your perfect imperfections....Give your all to me....I’ll give my all to you....You’re my end and my beginning....Even when I lose, I’m winning....Cause I give you all of me....And you give me all of you....”  Sapta menekan tuts panjang, tanda lagu telah berakhir. 
Aini sudah menangis di punggung Sapta, ia meracau sendiri. “Tolong bawa aku pergi dari sini agar aku bisa bersamamu Ta, aku merindukanmu 5 tahun ini, yang ada di kepalaku hanya dirimu bukan siapa-siapa. Aku gak sanggup Ta, bawa aku pergi dari sini, culik aku. Masih ada 23 jam lagi sampai pernikahanku besok.”
“Aini..dengar...Aini...ini bukan tentang pilihan tetapi ini tentang sebuah takdir. Aku sudah pernah bilang bahwa waktu terbaik kita telah berlalu.” Sapta berbalik dan memeluk Aini.
“Aku ingin mengembalikan semuanya seperti sedia kala, waktu dan kamu. Tolong Ta, bantu aku...” Tangis Aini semakin keras. 
“Aku hanya ingin kedewasaanmu Aini, karena di sisi lain ada seorang laki-laki yang sedang menunggumu, mencintaimu lebih dari yang aku lakukan 5 tahun lalu. Maafkan aku, aku tak bisa menjanjikan apa-apa. Tapi dia...dia akan menerima seluruh hidupmu tanpa syarat.” Sapta membelai rambut Aini. 
Aini menyeka air matanya, ia masih terisak. “Bagaimana perasaanmu padaku sekarang, 5 tahun ini apakah kau berubah atau kau...?”
“5 tahun lalu saat aku akan pergi aku berkata padamu bahwa aku pernah menjatuhkan setetes air mata di luasnya samudera. Jika aku bisa menemukannya lagi, maka disaat itulah aku berhenti mencintaimu.” Sapta membantu menyeka air mata Aini.
Aini beranjak, “Kau tahu 5 tahun ini aku belajar untuk tetap tegar karena kehilanganmu, 6 bulan terindah yang pernah ada di hidupku.”
Sapta juga beranjak, “Selain ikhlas, penerimaan juga merupakan pelajaran tersulit yang harus aku lakukan. Temukan kebahagiaanmu, hapus air matamu. Hidup tidak bisa ditebak, kadang apa yang kita rencanakan tak sesuai dengan kenyataan. Kisah kita tak akan pernah berakhir.”
Hari ini pernikahan Aini, ia sungguh cantik. Gaun pengantin yang indah. Sapta datang, tapi ia hanya melihat dari jauh. Ia beranjak untuk pergi dari sana meskipun acara belum selesai. Ia ke atas bukit tepi kota, tempat ternyaman yang ia rasakan. Ia menatap langit biru yang cerah. Menggenggam liontin yang ia lepas dari leher Aini tanpa sepengetahuan Aini kemarin. Ia merasa benda tersebut yang mengikat segalanya. Sapta menatap liontin tersebut, ia tak dapat lagi membendung air matanya untuk keluar. Inti dari semua ini adalah waktu, waktu yang akan mengatakan segalanya. Ini adalah waktu yang tepat untuk berpisah, waktu yang tepat untuk ikhlas, dan waktu yang tepat untuk sebuah penerimaan. 
Sapta masih menangis sambil menggengam liontin dan ia bergumam pelan, “Tuhan, mengapa urusan hati bisa serumit ini.”


end


*Cerita ini merupakan babak terakhir dari cerpen "Something Only We Know" baca di sini dan "Ini Tentang Kita di Lembar Kedua Kisah Cinta" baca di sini.
*Cerita ini masih untuk sahabat saya Nooraini Kiasatina!!
*Terima kasih lagu All of Me dari John Legend yang khusus dipilih oleh Nooraini Kiasatina yang menjadi inspirasi kisah ini.

  • 0 Comments
Postingan Lama Beranda

About me

"The most important thing is to enjoy your life — to be happy — it’s all that matters.”

Follow

  • instagram
  • twitter

Another Post

Labels

Cerita Pendek Curahan Hati Fotografi Jalan-Jalan Motivasi Potret dan Peristiwa Puisi Review Song Story of Family

instagram

Instagram

Template Created By : ThemeXpose . All Rights Reserved.

Back to top