Sebuah Perjalanan Mengarungi Dunia

  • Home
  • POTRET DAN PERISTIWA
  • REVIEW
  • FOTOGRAFI


Camp Pertama Kali: Gunung Prau, 2565 mdpl



Yeah! Baru 6 bulan kemudian bisa nulis dan ngisi blog ini lagi setelah disibukkan dengan kegiatan “sekolah”. Di bagian ini saya pengen menulis tentang the first my journey untuk nge-camp di gunung. Ini ketiga kalinya saya naik gunung, setelah dua kali naik Gunung Andong, yang pertama bersama The Sweet of TEA pada saat siang-siang hot potatoes alias panas ngentang-ngentang dan kedua kalinya bersama Koprol pada saat sampai puncak disambut hujan badai dan berteduh di warung sambil makan mie rebus telur super nikmaaat! Tetapi dua kali naik Gunung Andong saya tidak nge-camp di sana, kami hanya naik pagi-pagi dan turun pada sore harinya.



Dulu saya pernah berpikir bahwa siapapun kelak yang akan menemani saya nge-camp pertama kali di gunung akan saya ceritakan pada khalayak ramai. Pernah penasaran dengan siapa orang-orang yang akan bersama saya untuk sampai puncak gunung dan gunung mana yang akan saya daki untuk camp pertama kali. Tulisan ini akan menceritakan pengalaman pertama saya bisa sampai ke puncak, dan puncak itu adalah puncak Gunung Prau: selamat datang di 2565 mdpl.




Rencana ini tercetus lama banget ketika saya pengen naik gunung, dan akhirnya saya bilang ke Rahmat kemudian dia mengiyakan, “Gassss Ndo!”. Ditambah ketika saya berkunjung ke rumah Mbak Tiva sewaktu lebaran, di sana ada Mas Della, Rahmat, Anggara, Panggih dan Faishal. Kami berencana sebelum PPL kami harus naik gunung. Baiklah, setelah beberapa kali rencana kami naik gunung diundur-undur terus, finally pada 28 Juli 2018 kami jadi juga untuk naik gunung. Yes, they are my team for this journey.



Saya berangkat bersama Rahmat pukul 13.00, sebelumnya kami ambil tenda dan matras dulu di tempat persewaan depan UMY. Setelah itu kami berdua sama-sama merasa lapar dan itu sangat menyiksa *Rahmat sampai gembrobyooosh masukin tenda ke carriernya*, maka dari itu kami makan mie ayam dulukk di sekitaran Gamping. Setelah itu tujuan kami adalah meeting point: Magelang! Sekitar pukul 15.30 akhirnya kami nyampe juga di Magelang. Pada pukul 16.11 kami oteweh ke Gunung Prau, saya, Rahmat, Panggih, Anggara, Mbak Tiva, Faishal, Mas Della dan pacarnya Mas Della J.




Berdelapan menembus dinginnya daerah pegunungan Magelang-Temanggung-Wonosobo. Dan itu pun kami malam-malam menuju ke Gunung Prau, jalanan di Wonosobo atas sudah turun kabut dan jarak pandang hanya beberapa meter. Bbbrrrrrrrrr, adem banget coyy. Sesaat berhenti untuk beli logistik -ini Rahmat sama Anggara malah beli semangka satu glundung dan apel setengah kilo *ya saya cuma geleng-geleng kepala, masa iya bawa semangka*- makan, salat, dan isi bensin, kami lanjut perjalanan dan akhirnya sampai ke parkirannya, terus kami melongo dan mbatin aja, “Whooooooot ini motornya buaaannyaaaaaak bangeets!” kami semua takjub dengan pemandangan parkiran yang sudah selayaknya parkiran orang-orang mau nonton live dangdut di alun-alun *serius.



Sampai basecamp kami berdelapan bersiap-siap untuk cuss mendaki. Sebelumnya kami menata barang-barang yang dimasukkan ke dalam tas kami, kemudian buang air dan bayar tiket di basecamp. Setelah berdoa dipimpin Faisal yang ngomongnya agak ga jelas, intinya ya semoga diberi keselamatan sampai kita turun. Dan here we go, pukul 21.50 kita mulai pendakian ke puncak. Saya bertugas bawa logistik dan karena tas ransel biasa jadi agak berat serta bikin boyok bobrok *huft. Kami berbekal lampu usb yang dicolok ke powerbank, senter dan head lampnya Anggara, kami menembus malam untuk sampai ke puncak. Because kami muncak di malam minggu dan ramai banget, perjalanan ke puncak jadi banyak teman dan sering berhenti karena jalannya ramai, untung ga pake traffic. Di ekspedisi ke puncak ini, kami menasbihkan Anggara sebagai captain, soalnya dia udah pernah muncak ke Prau ini, jadi dia udah tahu medan dan track ke puncak. Kata Anggara waktu tempuh yang dibutuhkan untuk sampai ke puncak sekitar dua jam. Padahal puncaknya keliatan deket banget, masa iya sih sampai dua jam. Setengah jam perjalanan awal, kami masih menapaki jalanan berbatu yang dekat dengan rumah dan perkebunan warga, tapi jalannya nanjak banget dan udah bikin betis pegel padahal ini baru setengah jam awal, oh God.



Kemudian hal yang paling mengganggu adalah debu. Yap, sekarang musim kemarau dan jalanan rute ke puncak Gunung Prau adalah tanah yang berdebu. Alhasil debu masuk ke saluran pernafasan dan tambah bikin berat saat kami napas *duh Gusti. Dari pos 1 jalanan akan lebih menanjak dan melewati jalan setapak dan sampailah di pos 2, jika malam papan tanda pos 2 tidak terlihat jadi kita gak ngeh kalau udah lewat pos 2. Kemudian ada track landai yang aduhai enak banget, tapi setelah itu nanjak lagi bhosquuue. Kita sering berhenti karena capeknya gak ketulungan. Pas istirahat, belum ada sejam aja perut mulai bergejolak dan komat-kamit motivasi diri sendiri biar ga muntah, “Plis jangan muntah plis, ini bukan karena apa-apa, hamba takut dibully manusia-manusia penuh kenyiyiran yang njeplaknya gak kira-kira ini ya allah.” Pokoknya posthink biar ga muntah plis. Mau bilang sama mereka kalo saya pengen duduk aja mikir seribu kali, tapi masa bodohlah daripada muntah, sambil suara bergetar akhirnya saya berkata, “hmmm…ini boleh duduk gak sih? Boleh kan ya duduk?” yap benar sodara-sodara mereka tetap nyiyir, tapi ya udahlah, saya langsung jongkok sambil ambil napas dalam-dalam, sebenarnya pengen tiduran juga, tapi jangan deh, nanti malah diseret, soalnya mereka barbar banget, hahhahaa.



Hmmmm, jalanan yang nanjak semakin menguras tenaga, napas tersengal-sengal dan kemasukan debu, lengkap sudah. Pada akhirnya sampai di pos 3 yang tracknya semakin aduhai, banyak akar pohon yang menjuntai-juntai dan sampai menutupi jalur, bahkan beberapa kali kesandung dan suatu ketika saya kesandung sampai terjerembab dan berteriak, “wadaaaaaaw!!” padahal itu lagi rame-ramenya orang ndaki. Tengsin beraaat cuuy, tapi tetep aja stay cool dan act seolah gak ada apa-apa. Capek ya allah, tapi puncak tinggal dikit lagi. “yuuk, 10 menit lagi udah mau 2 jam, bentar lagi nyampe!” kata Anggara mengingatkan. Selama perjalanan ke puncak, Mbak Tiva ga berhenti ngomong, gilaaak energinya full charge pokoknya, Rahmat, Faisal, Anggara, Panggih yang meski gendong cariier-carrier segede gaban tetap sok cool dan kayak gak capek *tapi setelah disenter mukanya, gilaaak jeleeek banget wkwkwkwkwkk. Mas Della yang dikit banget bawaanya sesekali ngecek Mbak Nov yang jalan duluan *dasar lelaki kardus.



Selama tracking kesyumukan melanda, kzl karena dari basecamp udah pake jaket dobel, basah deh kaos yang dipake. Tiba-tiba bilang sama Mbak Tiva, “Mbak, pengen sup buah ni” *yakali. Setelah 2,5 jam tracking, berjibaku dengan kekuatan bulan, jurus kendalibumi, dan doa ibu, kami sampai di puncak! Yorobuuuuun, kami sampai puncaaaaak! Trus melongo karena di puncak udah kayak jambore nasional. Tendanya banyak bener, sekarang kami bingung mau mendirikan tenda di mana. Pas kami istirahat dan selonjoran, Captain dan Rahmat muter-muter nyari spot untuk tenda kami berdiri *good job. Setelah dapat spot kami mendirikan dua tenda, tenda berkapasitas 2 orang untuk Mbak Tiva dan Mbak Nov, dan tenda berkapasitas 6 orang untuk lelaki-lelaki. Rameeee yaa, dan tenda kita agak di gundukan, iya saya tidur berbantalkan gundukan. 






Setelah tenda berdiri kokoh dan kita menata tempat dan barang-barang, Faishal, Mas Della, Panggih langsung tidur, Mbak Tiva dan Mbak Nov juga masuk tenda. Rahmat dan Anggara asyik masak mie dan air panas. Sempat ku tertidur sebentar dan tiba-tiba mie rebus plus telur udah jadi, yippiee! Siapa yang bisa nolak mie rebus telur panas dan makannya di puncak gunung saat malam-malam dingin. Waktu sudah menunjukkan pukul 02.00, saatnya tidur. Semoga tidak ketinggalan liat sunrise.





Akhirnya kami bangun pagi dan liat sunrise cuuaantik dengan pemandangan berbagai gunung yang terihat dari puncak Gunung Prau, subhanallah cantik pokoknya. Akhirnya salah satu hal yang paling diinginkan terlaksana juga. Tentu saja kami berfoto dari mulai matahari belum nongol sampai matahari agak tinggi. Captain buat video timelapse matahari terbit, tapi di area kita foto-foto, hmm kalau kita deket-deket hapenya, dia geram dan langsung bilang, “Awas….awas...nyenggol tak polo!” hmmm yakali, padahal spot foto tu terbatas because banyak bener orang yang mau ambil gambar. Lapaar melanda, mereka masak air dan saya masih asyik foto-foto *maafkan orang norak ini gaaes, kami sarapan popmie *sluuuuuurrrp.




Pukul 08.00 kami memutuskan untuk packing dan bongkar tenda, saatnya pulang. Perjalanan turun lebih cepat, waktu tempuh hanya 1,5 jam. Kalau pas turun tenaga kaki lebih dibutuhkan, karena harus nahan berat tubuh juga, asli pegeeeel. Tapi pas turun jadi tahu pemandangan kanan kiri yang sumpah biutipul bangeeet, emejing pokoknya. Tapi tetep aja berdebu dan debunya keliatan, meski gitu turunnya juga traffic di awal karena banyak banget yang turun. Tadinya aku bawa logistik sisa, tapi kutukar dengan bawaan Mas Della yang hanya bawa air minum, *yakali badan gede bawaan dikit. Tapi waktu turun kakinya tremor, hehehe salah siapa punya kaki panjang, “Poor you raksasa”.



















Sampai basecamp dengan penampilan gembel membuat kita pengen mandi. Tapi Captain bilang mandi pom bensin di bawah. Okeeee! Pas perjalanan ke pom si Faishal minta turun di gapura Dieng yang hits itu “Poto dulu bentaar!”, katanya kalau mau dipost mau dikasih caption “wisata budaya nasional” yasalaaaam. Setelah itu kami lanjut perjalanan dan beli oleh-oleh. Sampai pom kami semua mandi dan lanjut perjalanan untuk makan. Dari tempat makan kami berpisah dan kembali ke tempat masing-masing. Saya dan Rahmat kembali ke asrama melalui Purworejo. Di tengah perjalanan saking ngantuknya, saya hampir saja ngglebak waktu dibonceng Rahmat. “Mat, mampir indo apa alfa dong, mau beli kopi.” Serius ngantuk banget. Lanjuuut perjalanan kami berdua ngembaliin tenda ke tempat persewaan, sampai asrama pas maghrib.









*my team!


Seru itu ketika muncak dan nge-camp untuk pertama kali bareng sama mereka. Walau mereka udah expert banget, mereka mau nunggu saya dengan sabar. Ucapan terima kasih dan salut buat mereka yang mau menemani saya sampai puncak. Mereka ga ngremehin atau sok banget karena udah berkali-kali naik gunung. Kalau ditanya kapok nggak? Saya menjawab nggak sama sekali, malah pengen lagi… siapa tahu besok-besok mendaki gunung yang tracknya bisa lebih dari 5 jam *wkwkwkw yakin ga ngeluh lu Ndo?. Saya akui, saya bukan anak gunung, saya lebih suka ke pantai. Tapi sebisa mungkin saya menantang diri saya sendiri untuk melakukan banyak hal. Meski ini baru pendakian yang dibilang mudah sama yang sudah biasa naik gunung, tapi bagi saya yang newbie banget ini adalah hal sulit. Angkat topi untuk team yang menemani saya camp pertama kali di gunung, mengajari banyak hal dan membuat perjalanan ini jadi memorable bangeeeet *peluuuk satu-satu! 







Gunung Prau, 28-29 Juli 2018
  • 0 Comments
The Things You Missed #1

Ketika bangun tidur tiba-tiba saja kangen dengan hal-hal yang dilakukan di Polewali Mandar. Rutinitas yang udah setiap hari dikerjakan jadi membekas sampai sekarang. Banyak hal yang ane lakukan di sana dan langsung saja ambil note di samping tempat tidur kemudian ngelist hal-hal yang jadi rutinitas ketika di sana - rindu untuk melakukannya lagi. And this is my routine that I missed in Polewali Mandar….

Tidur
Top list yang agak nyeleneh, kenapa ane kangen tidur di Polewali. Ini karena ane hobi banget tidur, jadi di Polewali ane selalu tidur di manapun apalagi kalo ada bantal, udah deh pasti langsung pelor -hanya kesyumukan yang dapat membangunkan tidur ane. Tempat ternyaman tentu saja kursi sudut yang jadi tempat tidur ane selama setahun di sana. Tiga hari pertama kedatangan ane di Polewali dan disambut hangat oleh keluarga Bapak, ane tidurnya di kamar dengan kasur super empuk dan nyaman banget asli - jadi ga pengen untuk bangun pokonya. Setelah itu ane memilih kursi sofa di luar kamar untuk jadi my next place for sleeping. Iya kursi sudut bentuk L yang kadang ditemukan di rumah-rumah pada umumnya. Ane jatuh hati dengan kursi tersebut, pernah ane tidur di kasur penghancur badan (Bapak punya bed yang pegasnya udah nongol-nongol dan bikin sakit badan - secara permanen jadi tempat tidurnya Pi'i) dan punggung ane meronta-ronta kagak tahan. Finally, pada kursi sudut bentuk L ane berkata, “Everything comes back to you…!” ululululululu. Sering ane pindah-pindah tu posisi kursi karena kadang ada tokek nyebelin banget dari atas buang tahi dan pasti jatohnya di kursi. Untung aja pas ane tidur kagak kena tu tahi #sujudsyukur. Di sekolah ane juga pernah tidur, ini dikarenakan kagak ada kerjaan dan di sekolah cuma bertujuh, di ruang tamu kan ada kursi kayu tuh, saking bosan dan capek awal-awalnya baring-baring doang kagak tahunya ketiduran #niat. So, inilah kenapa tidur jadi rutinitas yang sangat-sangat ane rindukan.

 Pose tidur sekseeeh ane

Telepon di Malam Berbintang
Kurang so sweet gimana coba? Jadi setiap telepon emak bapak dan temen-temen di Jawa pasti saya lakukan di malam hari. Tempat favorit sudah jelas di balkon lantai dua rumah panggung Bapak. Seret aja kursi plastik ke luar - temukan tempat nyaman - pasang earphone - teleponan deh hmmm. Dan ditambah dengan view rasi bintang-bintang yang kece binggo, hal ini ga setiap malam si. Kalo pas lagi langit cerah aje, bintangnya banyak banget dan konfigurasinya cantik #asli. Pokonya romantic momen dan syahdu pas telepon ya di Polewali, kadang bisa berjam-jam telepon emak dan ngomongin banyak hal sambil memandang bintang. Momen syahdu tiba-tiba dirusak sama Widhi pas teriak dari rumah samping, “Eh itu tu Sagitarius yang kayak panah keliatan, yang merah agak gede tu planet Mars”. #iyainaja.

Nimba Air Pas Mati Lampu
Jadi di rumah Bapak dan Kakek hanya ada satu sumur dan itu pun pake sanyo. So, kalo mati lampu sudah pasti airnya kagak keluar dari keran. Di Campalagian, intensitas mati lampu itu tergolong sering dan unpredictable banget, kagak pagi-pagi buta maupun pas maghrib menjelang malam. Maka, jika saat mati lampu dan kita butuh banget air, kita nimba! Biasa si keliatannya, but akitivitas ini tu memorable banget. Coba bayangkan ketika pada belom mandi atau kebelet pup, rebutan kamar mandi dan jadi kacau balau udah kayak film The Hunger Games. Apalagi kalo pagi-pagi dan mau berangkat sekolah, hahahaha. Kadang kalo sore hari, ane ga boleh mandi duluan. Karena beberapa kali ane mandi dulu, tiba-tiba mati lampu disaat yang lain pada belum mandi dan itu gak satu-dua kali. Makanya ane disuruh mandi belakangan #kejam. Kadang kalo malem mati lampu, berdoa biar ga pipis tengah malem, jarak kamar mandi rumah Bapak ke sumur emang ga jauh tapi horornya itu lhoh coyy, jadi mending pipisnya sebelom bobok. #justinfo.

Berkebun
Di samping rumah Bapak ada lahan kosong lumayan luas, Mas Budi punya ide buat nanem sayur-mayur. Ya ane sih sama sekali ga berbakat buat berkebun, pegang pacul aja kadang tremor. Tapi bisalah kalo cuma nyiram-nyiram atau mbedholi suket - tapi kadang malesnya minta ampun. Yang ditanam aneka macam sayur-mayur yang bisa dimakan. Bergiliran nanem biji kangkung, bayam, terong, cabai, jagung. Kalo masa panen, bisa sebulan makan sayur kangkung terus, atau goreng terong dan bikin sambel terong terus. Lumayan ngirit kaga beli sayur karena tinggal petik aja kalo mau nyayur. Trus saking banyaknya sayur pas panen, kita kadang bagi-bagi ke tetangga atau guru-guru SMP. Tapi pas kita mau pulang udah pada ga mau ngurus lahan, Bapak pernah nanem jagung tapi hasilnya kagak bagus, kata bapak kagak manis dan rasanya aneh. Jagungnya banyak yang dibuang karena udah tua, tapi sebagian dibuat bakwan jagung #anesampemabokbakwan.


 Atas: sebelum di tanami. Bawah: kangkung, cabai, bayam udah tumbuh

Gitaran
I am so proud with myself, hooh. Di Polewali ini akhirnya ane bisa maen gitar dan nyanyi satu lagu dengan permainan gitar sendiri. Prookproookprrok. Pak Ahmad (kepsek pertama yang jemput kita di Dinas Pendidikan) punya gitar akustik yang bagus, belajar dari Pi'i dan Mas Bud, finally bisa genjreng-genjreng gitar meski cuma nada-nada dasar macam C, D, G, Am, Em, F. Itu udah jadi bekal banget karena rata-rata lagu gampang nadanya pake nada-nada dasar. Yess, release stress banget dan favorit place buat gitaran itu di tangga, because kalo di lantai bawah (Rumah Bapak adalah rumah panggung) suaranya macem menggema jadi apik pokonya. Ehh pas mau dua bulan sebelum balik, gitarnya diambil Pak Ahmad. Adasih gitar sekolah, tapi kata ane si suaranya bagusan gitar Pak Ahmad.

Nyebrang Maloso Pake Perahu Motor
Maloso adalah bahasa Mandar dari sungai, jadi ada sungai besar yang memisah kecamatan Campalagian dan Mapilli. Pertama nyebrang sungai pake perahu motor itu ketika ada monitoring evaluasi dari pusat di Mapilli. Baliknya kita jalan kaki dan nyebrang pake perahu motor karena lebih dekat nyebrang ketimbang lewat jalan poros. Sensasi naik perahu motor pertama kali itu excited dan deg-degan banget, gimana ni kalo kelelep atau mogok di tengah sungai. Masalahnya meskipun jarak antar tepi ga terlalu jauh dan hanya beberapa menit saja, tapi aliran air sungai lagi deras-derasnya. Bahkan kata murid-murid ada buayanya juga #yakali. Tapi ternyata aman-aman saja ketika sampai tepi, malah rasanya nagih dan pengen ngelakuin lagi. Beberapa kali nyebrang sungai pake perahu motor itu sewaktu promosi sekolah di SMPN 3 Mapili, trus ke Wonomulyo (alternatif ga lewat jalan poros), dan emang sekadar buat ngrasain sensasi naik perahu motor. Jadi pas sepedaan sore ane ketemu Cenceng (salah satu murid) yang mau pulang - rumahnya Mapilli jadi harus nyebrang sungai. Iseng deh ikut naik dan sekali bolak-balik naik perahu motor. Ini dikarenakan yang punya perahu motornya bapaknya Wahyu (salah satu murid juga) dan dia kadang yang nyetir perahunya -bantu bapaknya gitu. Jadi saya rame-rame bareng Cenceng, Sherly, Noni, Supia, Wahyu, dan Pahri naek perahu motor -dan saya super excited dan seneng ditambah gratis pula #serius. Oh iya, tarif nyebrang untuk satu orang cuma seribu perak dan motor dua ribu.




Duduk di Bawah Pohon Rindang
Kenikmatan hakiki siang menuju sore yang panas itu ketika duduk di bawah pohon rindang sambil minum ale-ale orange dingin. Jadi pas masih semester satu dan bangunan SMA masih belum jadi, kite kan numpang di SMP sebelah. Nahh, waktu itu kantor SMP jarang dibuka kalo sore. Alhasil meski kita ga ada jam ngajar, kita tetap masuk dan duduk-duduk di bawah pohon rindang ntuh. Jadi kite cuma nungguin yang ngajar sekaligus ngawasin murid-murid biar pada kagak pulang kalo pergantian jam atau gurunya gak dateng ngajar. Jadi duduk di bawah pohon mangga ini bikin adem karena sejuk, dan kadang kalo pas musim mangga kite sama murid rame-rame makan mangga yang masih kecut dengan hanya dicocol ke garam. Dan pas hujan baru deh kita pindah di emperan kantor.



Nyuci Baju
Ini aktivitas dua kali dalam seminggu yang sungguh sangat luaar biasaaaa ngangenin. Jadi di rumah Bapak ada balkon lantai dua di belakang buat tempat nyuci dan jemur pakaian. Di sana aktivitas mencuci dilakukan, kadang bisa sepulang sekolah, sore abis mandi, atau pagi-pagi sebelum berangkat ke sekolah. Karena hari minggu udah dicup sama Pi'i dan Anggri, maka sisanya selain hari minggu kalo mau nyuci. Soalnya bisa-bisa nanti rebutan tempat jemur dan hangernya. Meski ga dijadwal, tetep aja kudu bilang kalo mau nyuci biar bisa gantian. Kadang ane kalo nyuci ditemenin Mama, diajak ngegosip mulai dari A sampai Z dan kadang sampai Mama lupa sedang masak sayur! Ahahahahahhaa. Kalo pas anginnya kenceng kudu sering-sering dicek jemurannya, soalnya hampir semua pernah mengalami di mana pakaian ang dijemur kabur kanginan sampai antartika -sebutan ane untuk zona kebon belakang rumah tanahnya tetangga.


Nyuruh-Nyuruh Pi’i dan Widhi
Jadi duo Wonogiri ini yang paling sering ane suruh-suruh kalo di sana. Ini ngangenin banget sumpah. Jadi mereka adalah sosok-sosok yang mau aja ane suruh-suruh. Hahahahahahhaa. Kadang tanpa tedeng aling-aling ane nyuruh, “Pi’i cetotin itu dong (sambil nunjuk kabel charger),” atau kadang teriak, “Pi’i nitip teh gelas dong kalo mau ke kak Rabi.” Meski dengan muka enggan dan bibirnya nyungir-nyungir, tapi pasti dia lakuin apa yang ane minta. Kalo si Widhi -si bungsu- ane sering banget nyuruh-nyuruh mulai dari nitip nyuciin baju, gorengin tempe, bikinin milo anget, setrikain baju pokonya predikat Mbok Yem udah nempel ke dia -penghargaan khusus buat lo ini Wid-. Widhi kalo disuruh pasti marah-marah dulukk, tapi tetep dia lakuin juga #hahdasar. Pokonya nyuruh-nyuruh mereka itu kebanggan tersendiri, liat deh muka mereka yang awalnya gamau tapi tetep jalan (abis mereka baca ini pasti langsung chat marah-marah deh).


Poto bareng Mbok Yem dan Mang Diman

Masih banyak hal yang saya kangenin, tunggu part dua yes..!


  • 0 Comments
Selamat Datang di SMADA Idol

I’m back..I’m backk sodara-sodaraaaah! Jadi atas berkah yang diberikan Tuhan, saya masih bisa menulis tulisan yang sebenarnya gapenting tapi meninggalkan kesan #iyainaja. Jadi corner Catatan di Polewali Mandar kembali dengan cerita asyik lainnya yang so pasti sudah ditunggu-tunggu khalayak ramai.

Kali ini saya mau membawa story tentang ajang nyanyi super kece di SMAN 2 Campalagian (baca Catatan di Polewali Mandar #1), tidak lain tidak bukan SMADA Idol. Yuhuuu, sekarang-sekarang kan lagi booming Indonesian Idol 2018 ntuh, jadi saya keinget bahwa kami juga pernah ngadain ajang serupa di kalangan terbatas saja. Jadi ini idenya mas Budi untuk mengisi jam kosong setelah tes kenaikan kelas. Pertama kita tawarin ke murid-murid dulu pada mau kagak lomba karaoke terngehitss abad ini di Katumbangan #agakmaksa. Awalnya pada gak mau si, tapi setelah kita kasih waktu beberapa hari mereka buat mikir, mereka pada mau daftar dengan iming-iming hadiah piala untuk juara I,II, dan III (Hooh. . ..kita sampai patungan buat beli pialanya di Pasar Wonomulyo). Sehari sebelum kontes menyanyi terdahsyat ini, kita ngadain yang namanya coaching clinic (sumpaah ngakak so hard ini beneran).

Jadi ada 3 coach yang siap membimbing mereka agar waktu pentas tuh maksimal gitu, ya ini ala ala the voice gitu pokonya. Tiga coach yang siap mengarahkan mereka untuk penampilan maksimal mereka yakni ada: Aris Lasso, Dewi Mo, dan Anggriawan Hermansyah (Ini lebihhh ngakak tau mereka jadi juri ala ala - niat banget yess). Jadi ada beberapa kontestan kan ini, nah mereka milih mau dicoach siapa. Setelah itu mereka akan dilatih dan dibimbing supaya perform dengan kece #iyainaja. Saya dan mas Budi jadi host, Tondo Mananta dan Budi Purba (ini lebihh maksaa lagi - namanya juga buat rame-ramean aja).


Ki-Ka: Rahmat Dhani, Anggriawan Hermansyah, Dewi Mo, Aris Lasso

Penampilan Tondo Mananta dan tiga piala kece!

Keesokannya adalah hari-hari yang ditunggu, sedari pagi saya udah nyuruh Yogi, Andi, dan Amir untuk ongkot-ongkot sound dan alat karaoke dari rumah (kebetulan Bapak Saega punya sound dan alat karaoke yang kece), tapi kita play file karaokenya pake laptop karena kebanyakan pada pake file karaoke donlot dari youtube. Nahh, tiba-tiba mas Budi mundur dari posisi host karena dia mau jadi operator (karena kagak ada yang ngoperatorin). Alhasil saya sendirian deh buat ngehost acara spektakuler ini #degdegan. Kenapa harus ada operator, because selain untuk play file karaokenya, ada video perkenalan peserta sebelum tampil ala-ala idol beneran. Yang buat mas Aris video perkenalannya dan banyak banget, dia buatnya sampe jam 3 pagi karena malam sempet mati lampu #sukurin #ketawajahat.

“Assalamualaikum SMA Negeri 2 Campaaaaaaaaaa. Welcome to Smada Idol,” yahh saya heboh banget buka acaranya padahal yang nonton ga ada 50 orang. Namanya juga buat rame-rame - kata orang mah show must go on kaan.
“Selamat datang di acara kontes menyanyi paling spektakuler di Katumbangan,” lupa-lupa inget ya gak bilang ini. Maklum aja, kita ngadain ini acara pada tanggal 23 Mei 2017. Setelah itu saya sebagai host ngenalin mereka-mereka yang jadi juri, ada Aris Lasso, Dewi Mo, dan Anggriawan Hermansyah (masih ngakakk), ditambah juri tamu yakni Rahmat Dhani (Rahmat ini guru asli SMAN 2 Campalagian -ala ala jadi Ahmad Dhani). Ada 15 peserta yang memperebutkan title SMADA Idol season pertama ini.

Pertama ada Dewi, jadi Dewi ini adalah kontestan pertama yang tampil dengan membawakan lagu dari Najwa Latif yang berjudul Carta Hati (sumpah saya ga tahu siapa Najwa Latif ini, sepertinya penyanyi dari Malaysia, lagunya yang berjudul Sahabat bagus lho serius). Dewi ini suaranya bagus dan surprisingly semuaanya tuh pada-pada bagus gitu suaranya mengawali penampilannya dengan duduk kemudian di tengah lagu berdiri dan nari-nari kecil. Setelah perform kemudian juri komentar, yaa. . . . kayakk idol beneran lah pokonya.

Si Dewi yang pake koreo dikit

Next ada Wahyu. Wahyu ini awalnya kagak mau tampil awal-awal karena grogi istilah kerennya demam panggung gitu. Dia nyanyi lagunya Anji yang berjudul Dia, hooh waktu itu di sana lagi ngehits-ngehitsnya ini lagu. Jadi tak heran kalo lagu ini jadi rebutan. Dan suaranya alamak kecil-kecil cabe rawit. Tapi ya karena ada efek demam panggungnya gitu ada beberapa part yang salah masuk. But keberanian dia udah okelah bawain lagu sebesar ini.

Wahyu nyanyi Dia-nya Anji

Selanjutnya ada Masud. Masud ini digadang-gadang jadi calon kuat kandidat juara, waktu coaching clinic aja doi kerenn banget (aye nonton pas coaching clinic jadi tahu). Membawakan lagu galau Luka Di sini dari Ungu, padahal key pas dan cocok banget ini lagu sama materi vokal Masud, tapi dasar dia grogian kalo diliat banyak orang, penampilanya jadi ga sesuai ekspektasi. Ada kesleo sedikit waktu part reff, but his vocal tetep kerenn kok.


Masud dengan gaya kecenya!

Next ada Lisma. Lisma bawain lagu Mandar yang saya ga tau judulnya (lupa asli). Katanya (di video perkenalan) lagu ini menceritakan seorang perempuan yang mengingat kisah cinta lamanya #alamak. Dan surprisingly dia jadi kuda hitam karena tampil oke dan beda dengan keseharian Lisma. Meski kita ndak tahu arti lagunya, Lisma mampu membuat kejutan dengan tampil oke, nada tingginya kece. Di tengah-tengah lagu Ilham bawa kembang untuk Lisma #yasalam.


Lisma lagi dikomentarin abis nyanyi

Performer selanjutnya ada Tri, cewek bertubuh bongsor ini juga kalo udah nyanyi keliatan beda. Ga nyangka suaranya bagus. Membawakan lagu dari Armada berjudul Pemilik Hati. Awalnya oke dan berjalan sebagaimana mestinya, tapi pas reff jeeeenggjeeeng dia tiba-tiba nangis dan bikin gempar seisi aula. Pertanyaannya waktu itu, apa iya Tri sebegitu menjiwainya ini lagu. Pasti pas reff dia nangis, sebagai host “mumpuni” dengan gerak cepat saya mengajak penonton untuk bernyanyi - masih dengan efek kaget pastinya. Dari host berubah sekejap jadi koordinator penonton untuk sama-sama nyanyi, “kau terindah kan slalu terindah, aku bisa apa tuk memilikmu……kau terindah kan slalu terindah, harus bagaimana ku mengungkapkannya…… kau pemilik hatikuuuuuuuuu…”. ululululululu kita jadi karaoke berjamaah dan setelah lagunya rampung si Tri ngeluyur sambil nyeka air matanya kagak mau dikomentarin dan keluar dari aula. #semangattri! #lifemustgoon!


Penghayatan Tri sampai bikin dia nangis

Selanjutnya ada Rahim yang juga digadang-gadang jadi salah satu kandidat juara juga. Bawain lagu galau pada masanya: Terendap Laraku dari Naff. #lagudalembanget. Tapi ya namanya lomba, apapun bisa terjadi. Si Rahim nyanyinya malah balapan sama lagunya. Pupus sudah kesempatan dia jadi juara, padahal menurut saya dia yang paling punya teknik dan materi vokal. #byebyepiala.


Gayanya udah kece banget padahal, Rahim balapan sama tempo

Ada Indah nyanyi lagu Mandar berjudul Teluk Mandar, smooth dan ekspresif sih kata saya. Suaranya pas, karena mungkin udah makanan sehari-sehari ini lagu. Dia nyanyi mulus tanpa hambatan. . . .#nice.


Nice Ndah Nice!

Ida peserta selanjutnya yang bawain lagunya Firman - Kehilangan. Memilih lagu ini adalah keputusan berani si. Nada tingginya itu lho coyy,,, dan benar saja ada part yang suaranya Ida kagak nyampe. Ehh dianya malah ketawa waktu kagak nyampe nyanyiinnya. #tepokjidat


"Da, kamu nadanya ndak sampai malah ketawa"

Lis, membawakan lagu Mandar sama kayak Indah - Teluk Mandar - dengan meyakinkan. Performance kece karena dia ekspresi sedihnya dapet banget ditambah dengan suaranya yang bagus dan cocok membawakan lagu-lagu kayak gini. #twothumbsup


Penghayatan Lis sampe merem-merem gitu

Next ada Rahma yang bawain lagunya Fatin, Aku Memilih Setia. Penampilannya memorable banget pokonya. Mulus ga ada salahnya, menghibur dan kayak udah khatam banget sama ini lagu. Penjiwaannya dapet dan aktingnya juga oke. Kece pokoknya. Dapet standing ovation dan tepuk tangan meriah dari penonton. Sampe juri Anggriawan Hermansyah aja kasih kembang (tapi bentuknya kayak rumput).


Surprise moment Rahma dikasih kembang

Ada Rico, satu-satunya rocker yang gayanya slengean abisss.. penampilannya oke padahal, bisa jadi kuda hitam juga, tapi dia liat video yang ada liriknya di dinding (pake proyektor pinjem SMP sebelah). Suara rocknya cadasss banget dan gayanya si oke. Membawakan lagu Slank berjudul Ku Tak Bisa. Memorable juga performance dia, one thing: nada tingginya nyampe pas mau coda. #nice.


Rocker Rico!

Rina adalah kontestan selanjutnya. Rina membawakann lagu dari D’Paspor yang berjudul Buku Harian. Lagu ini musiknya kaya band-band Malaysia gitu. Aye sih kurang tahu sama lagunya. Tapi penapilan Rina oke si dan lancar-lancar aja.


Rina yang colourful, her shoes is pink everybodeeh..

Duo Hijab in action! Yapp, satu-satunya duo yang ada di kontes ini. Perpaduan suara Padlia dan Sherly menyanyikan lagu hits lainnya: Surat Cinta untuk Starla by Virgoun. Suara sumbang Sherly malah bisa jadi harmoni yang oke dipadukan dengan suara Padlia. Memorable karena satu-satunya duo, awalnya gak mau jadi duo setelah saya paksa mereka mau juga dengan iming-iming piala tentu saja #dasar.


Kiri Padlia - Kanan Sherly, mereka duo hijab!

Maryam membawakan lagu Mandar yang memang vokalnya ini cocok-cocok aja dengan lagu-lagu berbahasa Mandar. Penampilanya oke dan lancar jaya. #kece.


"Maryam senyum dulu mau dipoto tuh"

Ilham. Ilham ini kasus spesial karena kelabilannya ikut kontes ini. Dia ga ikut coaching clinic di hari sebelumnya, tahu-tahu njedul di hari H dan bilang pengen ikut. Bikin panik orang-orang karena suruh donlotin lagu di youtube. Iyeess, bener banget. Lagunya itu didonlot pas hari H dan acara udah mulai. Kadang aye tanya ama Widhi sebagai koordinator talent, “Gimana Wid si Ilham udah dateng? Udah dapet lagunya?” bikin panikk coyyy. Membawakan lagu Tabir Kepalsuan dari Rhoma Irama, Ilham ini juga liat lirik mulu. Kesiapannya kurang dan ya penampilan sekedarnya aja. Padahal potensi dangdutnya ada lhoh.


"Hadap penonton dong Ham!"

Selesai deh, 15 peserta menyuguhkan penampilan terbaik dari mereka. Saatnya juri berunding menentukan siapa yang berhak membawa pulang title SMADA Idol season 1 dan piala kece. Waktunya pengumuman, saya sebagai host kece mengumumkan lima besar untuk SMADA Idol season 1 ini. Dewi, Lis, Rahma, Indah, Maryam. Salah satu dari mereka akan menjadi juara. And here is.. Congratulation for Lis jadi juara ketiga, Maryam jadi juara kedua, dan the one and only. . . .Rahma is SMADA Idol Season 1. Congratulation!





“Saya Tondo Mananta pamit! Sampai bertemu di SMADA Idol season selanjutnya!” *yakalo ada, kitenya udah pulang ke Jawa. #dadahdadahmanjaaah.

  • 1 Comments
Postingan Lama Beranda

About me

"The most important thing is to enjoy your life — to be happy — it’s all that matters.”

Follow

  • instagram
  • twitter

Another Post

Labels

Cerita Pendek Curahan Hati Fotografi Jalan-Jalan Motivasi Potret dan Peristiwa Puisi Review Song Story of Family

instagram

Instagram

Template Created By : ThemeXpose . All Rights Reserved.

Back to top