Sebuah Perjalanan Mengarungi Dunia

  • Home
  • POTRET DAN PERISTIWA
  • REVIEW
  • FOTOGRAFI


21 Oktober 2017

Maaf, surat untukmu tertunda. Aku harus bergelut pada diriku sendiri bagaimana aku harus bertahan, keluar dari masalah-masalah yang datang berbarengan. Bukan hal penting sebenarnya, tapi hal itu sungguh membuatku berpikir keras. Lama sekali aku harus berproses memperbaiki semua, terlebih hati dan pikiran yang kalut. Aku menjadi mudah bimbang, aku seperti bukan aku. Aku menyesal dengan semua yang berlarut-larut dan tak kunjung selesai. Aku menjadi “sedikit” melupakanmu, melupakan surat untukmu yang jika aku masih menulisnya bisa jadi aku selesai menulis surat untukmu, surat ketiga puluh.

Aku jadi menyendiri, asal kau tahu. Aku tak harus bercerita padamu kala itu. Aku ingin menyelesaikannya tanpa kau tahu. Kita masih saja bercerita seperti biasa, aku menyembunyikan semua. Seperti katamu, aku pandai berbohong. Aku bisa menyebut surat ini sebagai pengakuan. Pengakuan tentang bagaimana surat-surat untukmu tertahan. Kau selalu percaya padaku bahwa semuanya baik-baik saja, aku menyukai akan hal itu. Kau selalu mengerti aku dengan baik. Aku berpikir bahwa tak ada yang perlu disalahkan, bahkan keadaan pun tak layak untuk disalahkan. Saat aku menulis ini aku sudah pulang dari pengembaraan, 12 purnama untuk mencari jati diri dan kuyakini bahwa aku terlahir untuk menjadi seseorang yang baru.

Waktu berlalu, dan aku masih saja merindukanmu. Selalu dan tak berubah.

Hujan, deras dan tak berkesudahan. Ada semacam perasaan menganga dan aku tak tahu mengapa. Aku sudah mendapat jawaban dari ribuan pertanyaan yang ada. Lalu tentang hal apa ini. Jangan ada pertanyaan-pertanyaan lain kumohon. Jadilah langitku, yang akan menjawab pengharapanku untuk jawaban dari pertanyaan lain yang kelak muncul. Bisa?
¤∞∞¤∞∞¤
  • 0 Comments
Saat menulis ini aku ditemani segelas cokelat hangat, butuh pikiran yang relaks dan mood dalam keadaan yang baik. Butuh keberanian yang ekstra untuk mengungkap bagaimana setelah satu tahun kemarin aku harus mengalami proses recovery. Proses yang sebenarnya tak pernah aku duga aku akan mengalaminya. Aku harus bahagia, kataku. Perkataan-perkataan semacam itulah yang aku katakan pada diriku sendiri akhir-akhir ini. ada ribuan pertautan diri sendiri yang membuatku sempat menutup diri dari dunia luar. Aku masih berpikir aku kuat, tapi ternyata tidak. Bagaimana mereka membuat efek bom waktu yang luar biasa hebatnya di diriku. Mungkin mereka tak akan sadar, tapi di sini hanya ada aku dengan diriku yang terluka sungguh hebat. Sial.

Untuk sekarang mereka menemukan kebahagiaan mereka sendiri, pernah aku akan mengirimi mereka sebuah pesan, selamat untuk kebahagiaan kalian, tapi aku mengurungkan hal tersebut. Untuk apa? Tak ada gunanya, kata separuh pikiranku. Aku malu, untuk apa aku menangis waktu itu jika keadaannya justru semakin memburuk. Aku iri pada mereka yang tetap utuh hingga akhir bahkan sampai sekarang. What’s wrong with me? Apa ini mimpi buruk, aku berlebihan. Aku bahkan tak akan membuatnya semakin rumit, tapi mereka dengan cerdas membuat semuanya rumit dan dengan tenang meninggalkanku dengan ribuan pertanyaan yang tak terjawab. Aku bisa bertahan untuk 10 purnama, tapi satu purnama terakhir aku rusak. Justru di detik-detik terakhir semua hancur dan aku rusak, ya aku sungguh meledak.

Ada yang berkata, menjadi orang baik itu tidak ada gunanya. Untuk situasi seperti ini kata-kata itu sungguh tepat. Aku ingin menjadi orang baik, sungguh. Tapi mereka membuat aku terlihat bodoh. Kata Selena di lagunya yang berjudul The Heart What it Wants, “This is a modern fairy tale, no happy endings, no wind in our sails”. Ya, pada part itu aku sungguh setuju, ada beberapa alasan akhirnya aku menyimpulkan bahwa semuanya terasa abu-abu. Aku struggle, aku gila, aku survive, dan aku pergi. Bahkan sampai sekarang aku merasa bahwa purnama terakhir seperti dunia semu di mana aku tak percaya apa yang di dalamnya.

Beberapa momen membuat aku terlihat jahat, tapi situasinya mereka yang buat. Aku berteriak, ingin aku menghilang. Mereka cerdas dengan permainan psikologis mereka yang  tampak everythings ok di depan khalayak umum, tapi hancur deep inside. Aku butuh jalan untuk melarikan diri, tapi mereka menutupnya, sial. Ingin aku menolak semuanya, tapi mereka menjejaliku tidak hanya sepotong tapi sebongkah yang kadang aku tak terima. Ingat, mereka cerdas dengan permainan psikologis yang akan membuatku merasa tertekan. Satu catatan penting, mereka sangat pandai membuat orang lain merasa bersalah.

Mereka memiliki kebahagiaan mereka sendiri, tapi tak mengizinkanku untuk memiliki kebahagiaanku sendiri. Ya, aku memang berlebihan. Tapi aku pikir karena pikiranku sudah terlalu berkecamuk. Aku tak ingin berlarut-larut, aku ingin mengembalikan pikiran dan perasaanku yang hancur. Terima kasih untuk yang mau tinggal di sisiku di satu purnama terakhir, ingat kita hanya kumpulan dari yang terbuang dan berkumpul karena saling menguatkan. Untuk orang yang bertanya di luar sana, inilah jawaban versiku. Mereka mau menghakimi atau bahkan mencemoohku silakan. Aku ingin cepat keluar dari proses recovery ini dan segera menemukan kebahagiaanku. 

  • 0 Comments
Tuhan begitu baik padaku, 24 tahun yang menyenangkan dengan segala hal yang tak terduga terjadi. Aku harus menuliskan hal ini, aku harus membagi pada dunia bahwa aku dikelilingi orang-orang yang luar biasa. Entah apa peran mereka di kehidupanku saat ini, yang jelas mereka akan memberikan kenangan dan pelajaran padaku. Aku tak menyangka aku akan mengulang hari jadiku di pulau seberang, tentu saja tak akan pernah terbayang pada tahun lalu. Terima kasih pada Tuhan yang sudah mengatur semuanya menjadi demikian, jalan yang berliku tapi tetap dengan pemandangan yang indah di sisi kanan dan kiri, sehingga aku tak akan pernah merasa bahwa ini adalah sebuah perjalanan yang berat.
 
Sabtu, 8 April 2017. Aku sudah seperempat abad menjalani hidup ini. Aku tak tahu kapan perjalananku akan berada di babak akhir, yang pasti aku bahagia dan akan tetap bahagia. Aku harus mengangkat topi untuk orang-orang yang berada di hidupku untuk saat-saat ini. Untuk siapapun yang mengucapkan doa-doa terbaiknya untukku, doa-doa yang indah dan menyentuh. Aku tak bisa mengatakan apa-apa selain terima kasih dan amin. Pada akhirnya aku menjadikan ini sebagai salah satu hari terbaik yang pernah ada dalam hidupku. Malam sebelumnya, kejutan pertama dari Tim7. 

Mas Budi yang sudah sejak selasa kemarin diam dan tak mau berbicara pada siapapun, ternyata itu hanya akting belaka, untuk keperluan kejutan saja. Aku memaki dalam hati, bahwa ia sangat niat menyiapkan kejutan yang membuat semuanya terkejut. Tidak hanya aku, tapi Mbak Dewi, Widi, Dyah, Anggri juga pasti terkejut, karena mereka tak dilibatkan dalam rencana Mas Bud kali ini. Hanya Mas Aris yang mengetahui rencana Mas Bud, itu pun Mas Aris tahu di hari Jumat. Mbak Dewi sampai menangis, ia takut Mas Bud yang diam menyebabkan kemaslahatan Tim7 terganggu, hahahahaha. Aku sempat tahu jika Mas Bud mungkin hanya akting saja, tapi ini menjadi beban karena ada promosi sekolah di hari Jumat dan Sabtu, sedangkan Mas Bud dan Mas Aris ke Polewali karena ada pertandingan futsal. Alhasil kami berlima berjibaku sampai malam untuk membuat keperluan promosi sekolah. Aku harus memastikan semuanya berjalan lancar. Kelak aku akan bercerita tentang promosi sekolah ini. Keesokannya (sabtu), setelah mandi pagi aku lagi-lagi mendapat kejutan dari Tim7. Keluar dari kamar mandi mereka sudah membawa perpaduan nasi+wortel+tempe goreng yang dibentuk menyerupai kue ulang tahun lengkap dengan lilinnya bahkan tempenya juga dibentuk huruf-huruf. Kata mereka kenapa tempe goreng dan wortel, karena keduanya merupakan makanan yang kusuka dan tidak kusukai. Mereka tahu aku membenci wortel dan sangat menyukai tempe goreng tepung. 

Pukul 11.30 WITA setelah promosi sekolah aku dan yang lain kembali sekolah untuk mengisi jam terakhir. Ternyata kelas X-1 sudah menyiapkan kejutan dengan membawa kue ulang tahun (asli) lengkap dengan tulisannya. Kue ulang tahun ini dibuat oleh Santi, salah satu siswa kelas X-1. Setelah meniup dua lilin berwarna merah putih, aku memotong-motong kue tersebut. Dalam sekejap kue telah ludes diambil oleh yang semuanya, aku geleng-geleng kepala ternyata mereka menyuruhku untuk cepat-cepat memotong kue tak lain tak bukan agar mereka bisa merasakan kue tersebut. Meski aku hanya makan sepotong itupun tidak utuh, tapi rasa kuenya sangat enak. Aku berterima kasih pada mereka dan doa-doa mereka, kebanyakan dari mereka mendoakanku agar cepat ditemukan dengan jodoh, aku tertawa. Dan terlebih kepada Santi yang telah membuat kue yang enak, aku mengucapkan terima kasih. 

Sorenya, aku diajak Yogi (salah satu siswa kelas X-1 juga) ke Bendungan Sekka-Sekka, kami sudah merencanakan hal ini jauh-jauh hari dan kebetulan sore itu aku juga tak ada kegiatan. Maka berangkatlah kami berdua ke sana dan pulang magrib karena ban motor sempat bocor. Kelak aku akan menceritakannya juga. Malam harinya Aku, Mbak Dewi, dan Widhi nobar film The Babadook, karena proyektor LCD yang dipinjam dari SMPN Satap Katumbangan untuk keperluan promosi sekolah belum dikembalikan maka kami menggunakannya untuk nobar film horor, kami menyesal nonton film horor! Hahahahaha.

Aku bisa berkata bahwa ini merupakan salah satu hari terbaik yang aku punya. Kejutan demi kejutan terus terjadi di hidupku. Terima kasih untuk semua yang berada di sekelilingku, membentuk konfigurasi kebahagiaan dengan begitu indahnya. Terima kasih untuk semua yang sudah mengucap doa-doa terbaiknya untukku, mengirim pengharapan-pengharapan yang indah. Aku tak akan pernah bisa membalas semuanya, tapi aku juga bisa mengirim doa terbaikku untuk mereka. Itu yang hanya bisa kulakukan untuk mereka. Salah satu hari terbaikku akan kusimpan dalam memori, semoga tak akan hilang dari sana. Amin. Terima kasih Tuhan hidupku sungguh asyik. 

“Every day is a journey, and the journey itself is home.” -Matsuo Basho-

 Kue nasi+tempe+wortel dari Tim7



 Kejutan dari murid-murid X-1

Mamak buat nasi kuning di rumah. Miss you Emaaak!! Terbaik!!

 
Sore hari di atas bukit, aku berdoa yang terbaik untuk semua yang mendoakanku, thanks God!

¤∞∞¤∞∞¤

  • 0 Comments
6 Maret 2017
Bayangkan ketika ada empat musim di sini. Menghabiskan empat musim bersamamu akan menjadi kenangan yang menakjubkan. Takkan pernah terkira bahwa kita melalui empat musim bersama. Kita akan melakukan banyak hal di empat musim yang berbeda. Ya, hanya kau dan aku. Menikmati musim panas rasanya akan selalu membahagiakan untukku jika itu hanya denganmu. Kita bisa memakan es krim dengan rasa kesukaan masing-masing, aku lebih suka es krim rasa coklat, bagaimana denganmu? Kita akan membaca komik bersama di bawah pohon rindang berdua. Kita kan merencanakan piknik ke kebun binatang dengan membawa bekal yang sudah kita siapkan pagi-pagi sekali. Bahkan kita akan ke pantai yang dipenuhi banyak orang hingga matahari terbenam.

Musim semi, tentu saja kita akan melihat pertama kali bunga mekar. Kau tak sabar untuk melihat bunga yang pertama kali mekar. Sambil bersepada dan menikmati bunga-bunga di taman kota, membicarakan banyak hal. Ketika kita lelah, kita akan duduk di bawah pohon yang bunganya sedang bermekaran, kita merebahkan diri dan menatap bunga-bunga yang cantik. Malamnya kita akan melihat pertunjukan musik di taman kota, pertunjukan musik itu hanya ada saat musim semi. Banyak sekali orang yang melihat dengan antusias, begitu juga dengan kita. Kau mengajak untuk berangkat sore hari agar kita kebagian tempat di depan. Kau ingin melihat pertunjukan musik itu secara dekat, aku menjagamu agar kau lebih leluasa melihat pertunjukan musik itu, mengingat banyak sekali orang-orang yang akan melihat pertunjukan musik yang hanya ada saat musim semi.

Musim gugur, kau benci sekali musim satu ini. Katamu, tak banyak hal yang dapat dilakukan di musim ini, terlalu banyak angin. Daun-daun berguguran, katamu juga kau mudah sakit di musim ini, tapi kau akan semangat sekali ketika mendatangi festival musim gugur dengan bersepeda bersama. Musim dingin, kita akan menunggu jatuhnya salju untuk pertama kali. Katamu salju pertama kali adalah dimana kita meminta pengharapan, katamu juga apa yang kita harapkan bisa terwujud ketika salju pertama jatuh. Kita harus mengenakan jaket tebal jika kita keluar karena aku tak mau kau sakit tentu saja. Ini karena suhu bisa sampai 0° atau bahkan sampai minus. Kita bisa main ski, atau membuat manusia salju yang sangat besar dan bahkan saling lempar bola salju. Di dalam rumah kita akan sama-sama berdiam diri di ruangan yang ada penghangatnya. Sendainya saja ada empat musim di sini, pasti aku akan senang sekali melalui empat musim itu denganmu. Bagaimana denganmu?
¤∞∞¤∞∞¤
  • 0 Comments
6 Maret 2017
Sudah 21 hari aku tak menulis surat untukmu, maaf. Aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku, rutinitasku menuntutku untuk sesegera mungkin menyelesaikannya terlebih dahulu. Aku jadi tak sempat untuk menulis surat untukmu, surat terhenti di surat keduabelas. Aku tak sempat mengabarimu, aku tak mau mengganggumu dan mungkin saja kau di sana juga sedang sibuk dengan rutinitasmu. Semoga kau tak menantikan surat-surat yang tak penting ini. Kau tak perlu khawatir, perasaan ini masih tetap sama. Aku sedang berusaha menuju hatimu, tidak hanya sekedar singgah, namun aku masih mencari cara bagaimana agar aku bisa menetap di hatimu untuk waktu yang lama. Aku tak sabar bertemu denganmu, menantikan hari esok rasa-rasanya sungguh mendebarkan. Waktu terasa cepat, enam purnama lagi aku kembali. Bagaikan sedang menaiki kereta super cepat dan sebentar lagi sampai di stasiun akhir, begitulah perasaanku saat ini.

Apa yang kau lakukan 21 hari ini? Kau baik-baik saja? Semoga kau masih dalam keadaan baik-baik saja. Jika kau menanyakan hal yang sama padaku, jawabannya tidak. Aku tidak baik-baik saja 21 hari ini. Di 21 hari ini aku banyak berpikir tentangmu, tentang keadaan kita, mimpi-mimpiku untuk berjalan bersisian denganmu. Di tengah jalan aku menyerah, terlalu banyak hal yang menyadarkanku bahwa semua terasa semu. Kau di ujung sana dengan kehidupanmu dan aku di sini terlalu banyak berharap. Harapan-harapan itu seperti buih-buih yang akan menghilang jika sudah waktunya. Sungguh, aku meragu pada perasaanku sendiri, aku dihempaskan begitu saja dengan pemikiranku sendiri. Ada sebagian dari diriku yang melawannya namun itu sia-sia, aku kalah. Aku kalah dengan pemikiranku sendiri, dia seolah-olah berkata, “Sudah cukup, kau tak usah melanjutkan ini semua”.

Aku ingin mencintaimu dengan semampuku, aku tak peduli dengan waktu dan bagaimana akhir kisah kita. Aku tak peduli jika aku harus menunggu dalam ketidakpastian. Aku ingin bersamamu, sejak awal aku siap terluka bahkan sejak awal aku tahu jalanku akan berliku untuk sampai kepadamu. Aku tak mungkin menantang takdir, tapi satu hal yang pasti bahwa detik ini aku teguhkan niat untuk tetap setia menunggu. Sudah kukatakan bahwa aku tak peduli dengan akhir ini semua. Aku ingin selalu menjadi alasan terbesarmu agar kau tetap tersenyum, menemanimu melewati hari-hari yang sulit. Menjadi payungmu ketika hujan lebat dan menjadi tempat kau menceritakan hal apapun. Karena tugasku adalah membuatmu selalu bahagia, esok atau lusa.
¤∞∞¤∞∞¤
  • 0 Comments
Postingan Lama Beranda

About me

"The most important thing is to enjoy your life — to be happy — it’s all that matters.”

Follow

  • instagram
  • twitter

Another Post

Labels

Cerita Pendek Curahan Hati Fotografi Jalan-Jalan Motivasi Potret dan Peristiwa Puisi Review Song Story of Family

instagram

Instagram

Template Created By : ThemeXpose . All Rights Reserved.

Back to top