Sebuah Perjalanan Mengarungi Dunia

  • Home
  • POTRET DAN PERISTIWA
  • REVIEW
  • FOTOGRAFI
Tuhan begitu baik padaku, 24 tahun yang menyenangkan dengan segala hal yang tak terduga terjadi. Aku harus menuliskan hal ini, aku harus membagi pada dunia bahwa aku dikelilingi orang-orang yang luar biasa. Entah apa peran mereka di kehidupanku saat ini, yang jelas mereka akan memberikan kenangan dan pelajaran padaku. Aku tak menyangka aku akan mengulang hari jadiku di pulau seberang, tentu saja tak akan pernah terbayang pada tahun lalu. Terima kasih pada Tuhan yang sudah mengatur semuanya menjadi demikian, jalan yang berliku tapi tetap dengan pemandangan yang indah di sisi kanan dan kiri, sehingga aku tak akan pernah merasa bahwa ini adalah sebuah perjalanan yang berat.
 
Sabtu, 8 April 2017. Aku sudah seperempat abad menjalani hidup ini. Aku tak tahu kapan perjalananku akan berada di babak akhir, yang pasti aku bahagia dan akan tetap bahagia. Aku harus mengangkat topi untuk orang-orang yang berada di hidupku untuk saat-saat ini. Untuk siapapun yang mengucapkan doa-doa terbaiknya untukku, doa-doa yang indah dan menyentuh. Aku tak bisa mengatakan apa-apa selain terima kasih dan amin. Pada akhirnya aku menjadikan ini sebagai salah satu hari terbaik yang pernah ada dalam hidupku. Malam sebelumnya, kejutan pertama dari Tim7. 

Mas Budi yang sudah sejak selasa kemarin diam dan tak mau berbicara pada siapapun, ternyata itu hanya akting belaka, untuk keperluan kejutan saja. Aku memaki dalam hati, bahwa ia sangat niat menyiapkan kejutan yang membuat semuanya terkejut. Tidak hanya aku, tapi Mbak Dewi, Widi, Dyah, Anggri juga pasti terkejut, karena mereka tak dilibatkan dalam rencana Mas Bud kali ini. Hanya Mas Aris yang mengetahui rencana Mas Bud, itu pun Mas Aris tahu di hari Jumat. Mbak Dewi sampai menangis, ia takut Mas Bud yang diam menyebabkan kemaslahatan Tim7 terganggu, hahahahaha. Aku sempat tahu jika Mas Bud mungkin hanya akting saja, tapi ini menjadi beban karena ada promosi sekolah di hari Jumat dan Sabtu, sedangkan Mas Bud dan Mas Aris ke Polewali karena ada pertandingan futsal. Alhasil kami berlima berjibaku sampai malam untuk membuat keperluan promosi sekolah. Aku harus memastikan semuanya berjalan lancar. Kelak aku akan bercerita tentang promosi sekolah ini. Keesokannya (sabtu), setelah mandi pagi aku lagi-lagi mendapat kejutan dari Tim7. Keluar dari kamar mandi mereka sudah membawa perpaduan nasi+wortel+tempe goreng yang dibentuk menyerupai kue ulang tahun lengkap dengan lilinnya bahkan tempenya juga dibentuk huruf-huruf. Kata mereka kenapa tempe goreng dan wortel, karena keduanya merupakan makanan yang kusuka dan tidak kusukai. Mereka tahu aku membenci wortel dan sangat menyukai tempe goreng tepung. 

Pukul 11.30 WITA setelah promosi sekolah aku dan yang lain kembali sekolah untuk mengisi jam terakhir. Ternyata kelas X-1 sudah menyiapkan kejutan dengan membawa kue ulang tahun (asli) lengkap dengan tulisannya. Kue ulang tahun ini dibuat oleh Santi, salah satu siswa kelas X-1. Setelah meniup dua lilin berwarna merah putih, aku memotong-motong kue tersebut. Dalam sekejap kue telah ludes diambil oleh yang semuanya, aku geleng-geleng kepala ternyata mereka menyuruhku untuk cepat-cepat memotong kue tak lain tak bukan agar mereka bisa merasakan kue tersebut. Meski aku hanya makan sepotong itupun tidak utuh, tapi rasa kuenya sangat enak. Aku berterima kasih pada mereka dan doa-doa mereka, kebanyakan dari mereka mendoakanku agar cepat ditemukan dengan jodoh, aku tertawa. Dan terlebih kepada Santi yang telah membuat kue yang enak, aku mengucapkan terima kasih. 

Sorenya, aku diajak Yogi (salah satu siswa kelas X-1 juga) ke Bendungan Sekka-Sekka, kami sudah merencanakan hal ini jauh-jauh hari dan kebetulan sore itu aku juga tak ada kegiatan. Maka berangkatlah kami berdua ke sana dan pulang magrib karena ban motor sempat bocor. Kelak aku akan menceritakannya juga. Malam harinya Aku, Mbak Dewi, dan Widhi nobar film The Babadook, karena proyektor LCD yang dipinjam dari SMPN Satap Katumbangan untuk keperluan promosi sekolah belum dikembalikan maka kami menggunakannya untuk nobar film horor, kami menyesal nonton film horor! Hahahahaha.

Aku bisa berkata bahwa ini merupakan salah satu hari terbaik yang aku punya. Kejutan demi kejutan terus terjadi di hidupku. Terima kasih untuk semua yang berada di sekelilingku, membentuk konfigurasi kebahagiaan dengan begitu indahnya. Terima kasih untuk semua yang sudah mengucap doa-doa terbaiknya untukku, mengirim pengharapan-pengharapan yang indah. Aku tak akan pernah bisa membalas semuanya, tapi aku juga bisa mengirim doa terbaikku untuk mereka. Itu yang hanya bisa kulakukan untuk mereka. Salah satu hari terbaikku akan kusimpan dalam memori, semoga tak akan hilang dari sana. Amin. Terima kasih Tuhan hidupku sungguh asyik. 

“Every day is a journey, and the journey itself is home.” -Matsuo Basho-

 Kue nasi+tempe+wortel dari Tim7



 Kejutan dari murid-murid X-1

Mamak buat nasi kuning di rumah. Miss you Emaaak!! Terbaik!!

 
Sore hari di atas bukit, aku berdoa yang terbaik untuk semua yang mendoakanku, thanks God!

¤∞∞¤∞∞¤

  • 0 Comments




Aku rindu dengan keluarga di Magelang. Beberapa kali di sini aku merindukan Bapak dan Mamak. Masih teringat ketika mereka mengantar sampai auditorium UNY pagi-pagi buta. Memandang mereka begitu lama dan lekat-lekat bahwa aku tahu kenyataannya kelak satu tahun tak akan melihat wajah mereka secara langsung. Pada akhirnya mereka ikhlas aku melanglang buana hingga pulau seberang. Meski sering telepon atau video call (syukurlah sinyal internet di sini bagus) hal itu masih saja kurang, rasa-rasanya ingin memeluk mereka walau sebentar. Mamak yang selalu ingin tahu ceritaku di sini, apa yang dilakukan putra semata wayangnya, bagaimana kondisiku, apakah aku selalu makan dengan teratur atau tidak.

“Udah makan belum?” Tanya Mamak.
“Udah Mak, makan ikan laut tiap hari di sini,” jawabku.
“Enak dong, mahal?” tanyanya lagi.
“Nggak Mak, kayaknya lima ribu ato sepuluh ribu udah dapet sekantong krésék gedé.” Jawabku.

Atau tiba-tiba aku bercerita hal random ujung-ujungnya curhat,
“Maaaak, sandalku digondol anjing Mak,” aku teriak setelah teleponnya nyambung.
“Lhaaah sandal yang mana?” Tanya Mamak.
“Sandal gunung Mak, yang warnanya coklat.” Aku masih teriak-teriak, takut Mamak ga denger.
“Lhoh kok bisa si??” Tanya Mamak lagi, nadanya panik.
“Tau deh Mak, keknya anjing-anjing sini ganas-ganas, tiap malem aja keknya pada tawuran gitu.” Aku menjelaskan.
Mamak tertawa, aku juga. Kami sama-sama tertawa.

Bapak lain lagi, ia lebih sering bertanya tentang pekerjaanku, selalu meyakinkan bahwa jalan yang aku ambil tak pernah salah karena diawali niat. Waktu itu video call-an sama Mbak Endah, terus ada Bapak.
“Haloo Mas,” kata Bapak. Aku bingung, ini layar kok jadi hitam tapi ada suaranya. Tiba-tiba dari kejauhan Mbak Endah teriak, “Pak itu video call, hapenya jangan ditempel di telinga, liat layarnya aja.”
Aku tertawa, pantas saja layarnya hitam ternyata Bapak nempelin hapenya ke telinga, dikiranya aku telepon. Maklum saja Bapak baru pertama kali video call. Kami ngobrol tak lama, kami saling bertanya kabar. Alhamdulillah kondisi Bapak sudah mendingan, sebelum aku pergi Bapak selalu mengeluh sakit di kakinya.

“Gimana kerjanya? Enak?” Tanya Bapak.
“Alhamdulillah Pak, kemaren ngajar SMP juga jadi agak capek ini. Kalo libur buat tidur.” Kataku.
“Ya disehat-sehatké. Jaga kesehatan!” Pinta Bapak.
“Nggih Pak!” Jawabku.

Kadang aku rindu tawa mereka secara langsung, tak apa tawa mereka yang kudengar saat aku bercerita hal-hal yang tak biasa di sini juga membuat hatiku hangat. Pada saat menulis tulisan ini aku pun dalam keadaan merindukan mereka. Sedih rasanya ketika Mbak Tina menikah Desember lalu dan aku tak bisa pulang, sebelumnya Mamak yang meyakinkanku bahwa tak masalah jika aku tak bisa pulang. Aku menghela napas, aku bisa saja pulang dan berkumpul dengan mereka, tapi rasa-rasanya kondisi tak mendukung untuk semua itu. Aku hanya bisa mendengar cerita mereka dari telepon. 

Kemarin di whatsapp grup, aku, Mbak Endah, dan Mbak Tina membicarakan tentang rencana lebaran, dari situ aku tahu kelak lebaran Mbak Endah dan Mbak Tina akan tetap di Magelang karena aku tak bisa pulang. Sedih ketika tahu saat semua berkumpul dan aku tak ada di dekat mereka. Tiba-tiba ingin rasanya memutar See You Again dari Carrie Underwood, lagu yang pas untuk backsong keadaan saat ini. Suka saat part, “Cause I know I’ll never be lonely, for you are the stars to me, you are the light I follow..” Aku menyematkan lirik tersebut untuk mereka, keluarga, bahwa mereka cahaya yang akan aku ikuti ke manapun mereka pergi. Asalkan aku tak pernah merasa sendiri dan kesepian.

Ada part lain yang mengatakan, “Where the water meets the sky, the tought of it makes me smile, you are my tomorrow...” Ini lirik yang menyentuh, yes! Karena mereka adalah esok bagiku. Mereka alasan terbesarku untuk tetap bertarung dengan keadaan ini. Mereka yang membuatku tertawa saat dunia tak berada di pihakku. Aku tahu mereka memelukku dengan doa, memelukku dari jauh. 

Lirik di bagian bridge juga menyentuh sekali, “Sometimes I feel my heart is breaking, but I stay strong and I hold on cause I know I’ll see you again, this is not where it ends, I will carry you with me...” mereka menguatkan dan menenangkan sekaligus. Entah bagaimana caranya, yang kutahu aku sangat nyaman berada di dekat mereka, perlindungan yang begitu kuat. Mereka tak pernah menghakimiku justru membimbingku, itu yang terpenting. 

Ya, memang aku merindukan mereka, mendengar suara mereka secara tak langsung pun sudah cukup membuatku bahagia. Bapak, Mamak, Mbak, tunggu enam purnama lagi. Tunggu kepulanganku. Salam rindu untuk kalian, untuk sekarang ini aku hanya bisa berkata, “Till I see you again...”
¤¤¤

  • 0 Comments


Introducing: TIM7
Takdir yang membawaku bertemu dengan mereka. Awalnya kaget bukan main, karena kami bertujuh ditempatkan di satu sekolah, SMAN 2 Campalagian. Kami juga tidak menyangka akan ditempatkan dalam satu kelompok. Berbeda dengan teman-teman satu daerah penempatan yang lain, biasanya satu sekolah hanya akan diisi oleh dua orang tapi ini berbeda, tujuh, ya kami bertujuh. Dinas Pendidikan Polewali Mandar yang telah memplot 55 orang ke dalam beberapa sekolah di Kabupaten Polewali Mandar, kelak kami baru tahu bahwa mengapa kami paling banyak dalam satu sekolah, karena SMAN 2 Campalagian merupakan sekolah baru yang sedang dibangun dan beberapa guru “dipinjam” dari sekolah di sekitarnya. Mari, kukenalkan kalian dengan anggota TIM7, secara sekilas aku akan menceritakan orang-orang yang akan menemaniku selama satu tahun ke depan dalam perjalanan yang luar biasa ini.
#1 Mas Budi, panjangnya Budi Sulaiman dan aku sering memanggilnya Mas Bud saja. Dia tertua di kelompok ini. Mas Budi yang menamai kelompok ini TIM7, kami berenam selain Mas Budi terima-terima saja dengan panggilan tersebut. Mas Bud orang Purworejo, dia mengajar sosiologi. Mas Budi dulu merupakan maskot pleton A (gabungan penempatan daerah Gayo Lues Aceh dan Polewali Mandar) saat prakondisi di Akademi Angkatan Udara, siapa yang tak mengenal ia di SM-3T angkatan VI ini. Saat malam pengantar tugas (malam terakhir di AAU) ia merupakan sosok multifungsi di acara tersebut, MC iya, beatbox iya, menyanyi juga iya (keren!). Sosok multitalent ini juga kerap mengatakan kalimat-kalimat motivasi, katanya dari ESQ dia ingin jadi motivator.
#2 Mas Aris, namanya panjang kayak kereta: Muhammad Safi’I Aris Saputro. Kadang aku memanggilnya Mas Aris atau Sapi’i. Orangnya super pede, mungkin karena idolanya ibu-ibu dan janda. Asli Wonogiri dan mengajar olahraga, dilihat-lihat kek playboy gitu orangnya. Sering nyebelin, jahil, tengil pokoknya dan cueknya minta ampuun. Tukang ngebo karena banyak tidurnya, orangnya juga suka cerita dan gak habis-habis. Gaya andalan kalo dipoto adalah gaya ngupil, iyuh!
#3 Mbak Dewi, namanya alay kek orangnya: Dewi Indah Rachmawati. Kita kadang masih bingung kenapa di nama belakang harus Rachmawati, huruf ‘C’ dan ‘H’ berdampingan dan itu yang bikin nama belakangnya susah dibaca wooy. Mbak Dewi orang ngapak, asli Banjarnegara dan mengajar Bahasa Inggris. Orangnya rame dan alaynya minta ampun, temen ngegosip. Sama dia bisa ngomongin hal random yang sebenarnya kaga penting untuk dibicarakan. Suaranya juga aduhai nan merdu, tapi ini merdu yang menyimpang (hahahaha). Salutnya dia percaya diri dengan suaranya yang kadang nadanya kemana-mana. Paling lama di kamar mandi, sehari bisa ke kamar mandi berkali-kali, sempet-sempetnya waktu ke pasar belanja dia cari masjid terdekat buat pup. Ampuuun!
#4 Anggri, nama lengkapnya Anggriawan Susanti eh Susanto. Orang Solo dan mengajar matematika. Dia adalah orang pertama yang aku kenal secara langsung waktu pertama kali kumpul mau pemberangkatan prakondisi di AAU. Sumpah, halus banget bicaranya kadang malah irit banget dan gak ngomong, mungkin karena orang Solo jadi halus gitu ngomongnya. Banyak mikir, ketahuan dari banyaknya uban di rambutnya (mungkin juga dikarenakan ngapalin banyak rumus-rumus matematika). Satu yang gak adil: makannya banyak, tapi ga bisa gendut. Terus kemana larinya makanan-makanan itu, kenapa ga jadi lemak? Tipe orang gamer sejati, dia bisa ga tidur dan ga keluar kamar karena ngegame. Keluar kamar kalo makan dan ke kamar mandi. Super!!
#5 Dyah, Dyah Winengku Rahmawati aku manggil dia bundahara. Yapp, dia adalah bendahara kelompok ini. Jadi dia yang pegang duit iuran keperluan beli bahan pokok untuk kebutuhan makan sehari-hari, makanya kami sematkan gelar bendahara kelompok padanya. Dyah asli Purworejo kek Mas Budi dan mengajar ekonomi. Hobi banget makan mie instan.
#6 Widhi, Widhi Astuti dan nama FBnya: Widhi Astuti Cullen. Wkwkwkwkwk. Paling bontot makanya sering sekali dibully. Asli Wonogiri dan mengajar Biologi. Sama-sama golongan darah O, makanya nyambung dan satu frekuensi. Orangnya cepet akrab sama siapapun, suka ngabisin makanan mulai dari chocochips sampe makanan sisa kemarin malem! Kalo telponan sama keluarganya pasti hebohnya minta ampun. Mood-moodan juga, pernah dipergokin mama keluar kamar mandi kaya nangis dan ternyata beneran nangis. Hhaaaaaahhhaaa, kata dia tiap orang butuh “me time”.
Banyak orang mengira, dengan anggota 7 orang semua akan baik-baik saja. Mereka tak tahu bahwa mobilitas kami terbatas, kemana-mana sulit. Dari rumah ke jalan raya aja jauhnya (╥﹏╥). Di kelompok ini yang ada hanya tawa-tawa manja, glundang-glundung ngebo! Makan porsi kuli, berkebun asri, antre mandi udah kayak di penampungan TKI, bully-membully, genjreng" nyanyi" udah kayak mau ikut the voice, monopoli, badminton pake raket sekali banting jebol. Kalo di sekolah, udah kayak pengawas, kesiswaan, BK, dan duduk-duduk di kantor, absen di kantin sekolah. Yapp, mereka adalah orang-orang terpilih dan akan menemaniku sampai bulan September. (•˘˛˘•)

Keluarga Kakek Kamaega
Bisa jadi tokoh-tokoh yang ada di dalam kisahmu adalah orang-orang yang tak akan pernah terduga datang dan ikut dalam cerita hidupmu.
Aku sering menyebutnya Kakek, “Hai kek, mau kemana? Sawah? Oke hati-hati” atau “Aduh Kek masih kenyang ni, tadi udah makan di rumah mama, besok deh Kek makan di sini.” Sekilas itu adalah percakapanku dengan Kakek. Aku tidak tahu nama asli Kakek, tapi ia dipanggil Kamaega, yang dapat artikan Bapaknya Ega (anak pertama Kakek). Orang Mandar sering menyebut demikian, sesuai dengan nama anak dan di depan nama tersebut diberi kata “Kama” atau yang berarti Bapak. Kakek punya 8 orang anak, Bapak (Saega), Kak Darma, Kak Rabi, Kak Asma, Kak Yusuf, Kaka Ira, Kak Uma, dan Kak Tima. Aku tak tahu pasti umur Kakek sekarang, yang pasti ia sudah lanjut usia dilihat dari fisiknya. Tetapi, di masa senjanya ia masih sibuk ke sawah dan melakukan banyak aktivitas di sana. Kakek orangnya kuat, ia bisa membawa kelapa satu sorong penuh dari kebunnya. Jika tak ada keperluan, Kakek pasti salat di masjid depan rumah dari mulai salat subuh hingga salat isya’. Pertama kali mendengar namaku Kakek juga tertawa. Ah jadi ini rasanya punya Kakek, maklum dua kakekku meninggal sebelum aku lahir. Kakek sangat perhatian pada kami semua, jika maghrib ada yang belum pulang karena pergi entah membeli sesuatu Kakek pasti khawatir, bertanya terus menerus kenapa yang pergi belum pulang. Selalu bertanya, “Sudah makan belum? Sini makan.” Itulah Kakek, Kakek Kamaega yang super baik hati.
Nah ini namanya Saega dan Surah, kupanggil Bapak dan Mama. Orang tua baru yang menemani perjalanan satu tahun. Sudah jelas, karena kami tinggal di rumahnya. Oh iya dari kami bertujuh, empat laki-laki tidur di rumah Bapak, sedangkan tiga perempuan di rumah Kakek. Bapak dan Mama dulu bekerja di Malaysia, baru pulang sekitar bulan Maret tahun lalu. Banyak benda atau perabotan yang dibawa dari Malaysia, seperti piring, televisi segede gaban, dan lainnya. Sekarang ini Bapak ngurus sawah pemberian Kakek, sedangkan Mama mengurus rumah dan mengoperasikan mesin penggilingan, yang digiling bisa beras menjadi tepung beras dan biji menjadi kopi. Bapak Mama sangat baik orangnya, tinggal dengan mereka seperti di rumah sendiri, mereka akan bercerita apapun tentang kehidupan di sini sebelum kami datang. Terlebih Mama senang sekali bercerita, keduanya juga punya sense of humor yang tinggi. Aku ingat pernah berkata “Yang penting Bapak ganteng Mak,” dan Mama menjawab, “Alamak, kalau Bapak ganteng berarti orang satu desa ini juga ganteng.” Kami tertawa berdua, memang akan selalu ada tawa di cerita mereka. Paling suka kalau Mama udah bilang, “Ondo kayak orang Korea ya, liat aja tu matanya, sayangnya kulitnya hitam coba putih sedikit.” Aku tertawa. Atau teriak-teriak sambil bilang, “Ondoooooo, makaaaaaan!” Masakan Mama sangat enak, apalagi jika Mama masak ikan laut, sedaaap! Hangat, nyaman, dan menenangkan! Dua dari sekian pemeran pendukung yang hadir dalam hidupku. Terima kasih atas penerimaan yang begitu hangat dengan tangan terbuka. Kelak aku akan rindu sekali pada mereka.
***



  • 4 Comments
 taken from zedge.net

Dulu waktu semester 1 pasti temen-temen satu kelas selalu mengejekku jika aku selalu pulang dan di cap sebagai ‘cah mudik-an’. Aku selalu tertawa jika mengingat hal tersebut. Mereka selalu bilang “Selamat mudik, selamat bertemu mamak!” Hahahah, lucu mengingat ekspresi mereka yang campur-campur, antara mau ngejek sama mau say goodbye gitu. Well, aku tahu mereka peduli dengan keadaanku yang selalu ‘homesick’. Dulu aku selalu pengen pulang padahal esoknya masih ada kuliah, Entah kenapa ga kerasan lama-lama di kosan.
Maka dari itu aku berpikir, mencari-cari suatu hal kenapa aku selau pengen pulang ke Magelang, dan aku pikir aku tahu jawabannya.

  • Uang saku abis
Alasan klise untuk setiap mahasiswa yang ngekos, ya ini alasan mengapa aku selalu pulang karena bapak menjatah uang saku seminggu sekali. Dulu aku ingin uang saku setiap sebulan sekali, jadi aku tak perlu pulang ke rumah setiap seminggu sekali. Tetapi bapak pernah berkata, “Uang saku seminggu sekali saja, biar kamu pulang selalu pulang seminggu sekali, biar kamu inget kalo kamu masih punya rumah.” Cessssshhhhhhh!! Sumpah ini kata-kata bapak nohok banget. Jadi aku selalu pulang seminggu sekali sekedar nengok keadaan rumah. Hmmm---

  • Temen keluh kesah bapak mamak
Nhah ini dia kenapa berat banget rasanya jika minggu sore atau senin pagi harus balik ke Jogja, karena setiap pulang Magelang selalu jadi tempat ‘curhatnya’ mamak sama bapak. Ya, mereka berdua adalah sahabatku. Aku bisa cerita apapun dengan mereka, mereka benar-benar pendengar yang baik. Begitu juga dengan mereka yang selalu menceritakan hal apapun saat aku sedang tidak berada di rumah. Setiap di akhir cerita mereka selalu memberikan penyelesaian yang mungkin bisa membantu menghadapi masalahku yang seabrekk!! Bapak dan mamak tidak pernah menghakimiku, mereka membebaskanku untuk berbuat apapaun asalkan tidak berbuat hal yang aneh-aneh dan merugikan. Mereka 100% percaya padaku, maka dari itu aku tak bisa menyiakan kepercayaan yang mereka berikan. Aku beruntung memiliki sahabat seperti mereka.

  • Sebuah Ruang Hangat
Rumahku sangat kecil, hanya ada dua kamar tidur. Dulu saat masih ada bapak, mamak, dan kedua kakak, rumah kecil ini begitu ramai, selalu ada cerita di balik dinding penyekat antar ruang. Dan ketika bapak dan mamak memutuskan untuk pindah menemani mbah, rumah ini masih saja tetap hangat dan membekas meski tanpa kehadiran mereka. Mungkin ada sejuta alasan kenapa mereka memutuskan untuk pindah. Saat lebaran beberapa tahun lalu, mereka mengumumkan hal itu. Tawa berganti menjadi tangis saat aku tahu mereka tidak akan tinggal bersamaku lagi. Satu persatu pergi, begitu juga dengan kedua kakakku, pekerjaan mereka yang menuntut mereka untuk pergi. Kemudian aku yang harus ke Jogja untuk kuliah. Hmmm, rasanya rumah ini begitu sepi. Tapi aku tahu masih ada sebuah kehangatan yang hadir menyeruak dan menyambut kami ketika kami pulang.

  • Pulang = Menenangkan Jiwa
Segudang masalah yang menghampiriku hanya satu penyelesaian, yaitu pulang ke rumah!! Dan ketika aku kembali ke Jogja aku sudah tenang dan melupakan segalanya. Ketika banyak masalah, satu-satunya cara untuk melupakan ya pulang ke rumah. Di rumah bisa tenang, denger lagu kenceng-kenceng pake sound, nonton dvd sampe subuh, makan mie telor sepuasnya, ngetik-ngetik sampe malam, dan tidur!! Kata Ardhian kemarin waktu ke rumah, “Pantes pekerjaanmu hanya tidur, lha wong tempate enak gini buat tidur.” Hmmm—aku tertawa, mungkin ini kenapa aku gampang banget ngantuk dan tertidur. Aku selalu menemukan tempat yang cocok untuk tidur. Heehehehehe. Setiap pulang memang enak kalo buat tidur. Aku yang aneh aku yang punya segala cara untuk menenangkan jiwa dan rumah menyambutku dengan ketenangannya.

  • Rumah jadi tempat kumpul
Ini rumah udah jadi basecamp nya koprol, mereka kalo ngakak guling-guling ya di rumah ini. Hmm—begitu juga dengan the guzt’s, ngerjain tugas sama Yuna, intinya rumah jadi tempat kumpul, ini karena rumah letaknya strategis banget, gampang dituju. Yah, selalu ada tawa saat mereka di sini, Paling tidak seminggu sekali rumah rame dan gak akan pernah sepi. Maka dari itu, kenapa aku selalu pulang, karena mungkin saja ada agenda ngumpul-ngumpul dan hadir tawa yang meramaikan rumah kecil ini.
Kata pepatah, “kau akan selalu menemukan jalan pulang entah bagaimana caranya.”

-Another summer day, has come and gone away, in Paris and Rome, but I wanna go home......Let me go home, I’m just too far from where you are, I wanna come home.......It will all right, I’ll be home tonight, I’m coming back home.......

(Home)

taken from zedge.net
  • 0 Comments




Pada tanggal 4 Januari kemarin aku, mamak, bapak, serta keluarga yang lain pergi ke pantai. Entah ini yang ke berapa kali, kami hanya mengantar adik mamak yang tinggal di Jakarta. Bersama istrinya, om ingin sekali pergi ke pantai. Alhasil kami pun pergi mengantar mereka. Sesampainya di sana aku hanya duduk-duduk bersama mamak, mbah putri, tante dan budhe. Aku juga menjadi juru foto om dan tante sesekali. Hingga cahaya matahari benar-benar di atas kepala, saya memutuskan untuk duduk di tempat yang sudah disewa oleh keluarga. Bapak menunggu di parkiran. Kami lapar dan mengambil makanan yang ada di mobil, sekaligus mengajak bapak ikut bergabung. Kami kembali duduk-duduk dan menikmati makanan yang kami bawa dari rumah. Tiba-tiba bapak berkata, “Ndo, kamu inget apa kalau di pantai ini?”
Aku berpikir sejenak, seketika itu ingatanku melayang jauh dan menemukan memori kejadian sekitar 14-15 tahun yang lalu. Di pantai yang sama aku, bapak, dan teman-teman bapak juga sedang berekreasi di pantai ini. Waktu itu, aku tak tahu ombak semakin naik, teman-teman bapak sedang bermain ombak, aku juga sedang bermain pasir bersama bapak. Bapak melarangku untuk ke tengah. Tiba-tiba ombak semakin naik, tapi aku tetap asyik bermain pasir. Hingga, ombak besar datang, menerjangku. Semua tampak baik-baik saja, hingga sandalku, sandal bapak, dan sandal teman-teman bapak terbawa ombak. Aku terperanjat kemudian bangkit untuk mengejar sandal-sandal yang terbawa ombak. Satu persatu aku menangkap sandal-sandal yang terbawa ombak. Karena aku asyik mengambil sandal, aku tak melihat ombak datang lagi. Kemudian ombak tersebut menerjangku yang sedang sibuk mengambil sandal-sandal yang terbawa ombak sebelumnya. Bisa dikatakan aku termakan ombak, aku terseret ombak itu. Seketika itu bapak datang dan menangkap tanganku. Bapak hanya meraih tanganku agar aku tidak terseret oleh ombak, aku tahu bapak juga menahan tubuhnya sendiri agar tidak terseret. Mungkin karena kejadian tersebut, aku selalu tak pernah diperbolehkan untuk bermain ombak. Karena aku nyaris hanyut terbawa ombak.

Aku masih saja memikirkan kepentingan orang lain di saat nyawaku sendiri aku korbankan. Ini semua hanya untuk sandal orang-orang!! Mungkin dulu sewaktu kecil aku tidak tahu apa-apa, aku tak tahu darimana perasaan itu selalu muncul: Aku ingin membantu orang sebisaku! Hingga saat ini juga seperti itu, aku selalu ingin membantu orang lain, mengalah untuk kepentingan orang lain, namun aku tak memikirkan keadaanku sendiri, entah aku sakit atau tidak dengan setiap keputusan yang selalu aku ambil. Kadang aku bersyukur karena aku memiliki sifat ini, namun kadang-kadang aku juga benci juga jika sudah menyangkut hati yang sakit. Tapi itu semua aku jadikan pengalaman dan takdir yang harus aku jalani. 
  • 0 Comments

Tertanggal 17 september 2013, pukul 04:45 pagi aku resmi menjadi seorang paman. Yeeaa. . . nambah anggota keluarga baru deh. . 
Namanya RADITHYA ENDJI NUGROHO.




Selamat datang di dunia ini...semoga kelak kau menjadi anak yang saleh, berbakti pada orang tua, dan bisa berguna bagi nusa, bangsa, dan agama. Amin.




  • 0 Comments
Postingan Lama Beranda

About me

"The most important thing is to enjoy your life — to be happy — it’s all that matters.”

Follow

  • instagram
  • twitter

Another Post

Labels

Cerita Pendek Curahan Hati Fotografi Jalan-Jalan Motivasi Potret dan Peristiwa Puisi Review Song Story of Family

instagram

Instagram

Template Created By : ThemeXpose . All Rights Reserved.

Back to top